Langit Brisbane Berubah Perangai
Australia dilanda angin debu merah, Rabu, 23 September 2009. Peristiwa alam ini mula-mula menerpa wilayah New South Wales dan kemudian menjelang tengah hari bergeser ke Queensland.
Di mana-mana langit memerah, jarak pandang menjadi pendek. Penerbangan di bandara Sydney banyak yang ditunda, atau dialihkan ke bandara lain termasuk Brisbane.
Land mark kota Sydney Opera House dan Harbour Bridge diselimuti awan orange, pesonanya berubah, seperti tak pernah terjadi sebelumnya.
Menjelang tengah hari, kota Brisbane juga dilanda red dusti storm. Walau tidak sepekat Sydney, perangai langit dan udara Brisbane berubah, dari biasanya biru cerah menjadi orange. Peristiwa alam yang tidak pernah terjadi atau mungkin jarang atau tidak separah kali ini.
Pohon bergoyang, seekor burung pun termangu, hinggap penuh awas, mungkin tak tahu apa yang terjadi, dia tampak wait and see…………
Anak-anak, pengidap sesak pernafasan, atau wanita hamil disarankan tinggal di dalam ruangan demi kesehatan. Tapi, para fotografer bergegas ke luar mengabadikan momentum alam yang berubah perangainya.

St Lucia, 23 September 2009
1 comment September 23, 2009
Pesta Kesenian Bali belum Melahirkan Kritikus Seni

Penampilan gong kebyar remaja dalam Pesta Kesenian Bali 2009.
Teks Darma Putra, Foto Ary Bestari
Peran Pesta Kesenian Bali (PKB) dalam merevitalisasi dan mengembangkan kesenian Bali tidak perlu diragukan lagi. Sejak digelar setiap tahun mulai 1979, PKB telah mencetak sekian banyak seniman.
Namun, yang terasa kurang adalah PKB belum melahirkan kritikus seni. Tulisan tentang PKB di koran sejak dulu lebih banyak menyoroti aspek pelaksanaan PKB, sementara ulasan aspeek seni dari seni pertunjukan bersifat superficial, permukaan.
Bali kaya akan kesenian tetapi hampir tidak memiliki kritikus seni. Pentas seni semarak, tapi kritik seni sepi jampi. Ini merupakan paradok. (more…)
Add comment July 5, 2009
Meninjau Kembali Sejarah Drama Gong
DALAM dialog budaya tentang sendratari, drama gong, dan gong kebyar di sela-sela Pesta Kesenian Bali (PKB XXXI di Taman Budaya Denpasar, Senin (22/6) lalu, disinggung sepintas mengenai awal munculnya drama gong. Disebutkan bahwa drama gong lahir pada 1966 (pasca-G30S), tokohnya adalah Anak Agung Raka Payadnya. Sejak tahun itu drama gong dianggap berkembang dan berbiak ke seluruh Bali.
Pendapat itu terus didaur-ulang sejak dulu, baik oleh sarjana Bali maupun luar negeri. Padahal, ada bukti lain yang menunjukkan bahwa cikal bakal drama gong sudah ada setidaknya sejak akhir 1959, ditandai dengan munculnya drama “Mayadenawa” yang diiringi gamelan dan pemainnya berbusana Bali. Namanya drama atau drama klasik, tetapi bentuknya tidak ubahnya bentuk awal drama gong. (more…)
Add comment June 28, 2009
Tiap Orang Bali adalah Seniman, Termasuk yang Cacat

Dalam buku klasiknya Island of Bali (1938), antropolog asal Meksiko Miguel Covarrubias menulis bahwa setiap orang Bali adalah seniman. Dia menyebutkan contoh seniman dari kalangan petani sampai pendeta, buruh sampai bangsawan, laki dan perempuan.
Kalau saja Covarrubias masih hidup dan sempat menonton pagelaran di Pesta Kesenian Bali (PKB) Juni-Juli 2009 ini, dia mungkin bangga dan terharu. Bangga, karena dia bisa membuktikan bahwa dalilnya yang diucapkan hampir 80 tahun lalu kian menemukan kebenarannya.
Terharu, karena dia akan melihat bahwa yang bisa diberikan predikat sebagai seniman tidak saja orang normal dan orang dewasa, tetapi juga anak-anak dan remaja, serta orang-orang cacat, tuna netra, patah kaki, polio, tuna rungu, tuna-netra, dan seterusnya.
Penampilan mereka di panggung PKB mengharukan hati. Kian menyentuh karena mereka menari menggunakan tongkat atau kursi roda. (more…)
Add comment June 28, 2009
Monkey Forest Ubud Suatu Hari, “Bapak, wait for me…wait for me..!”
Teks Darma Putra, Foto Ary Bestari
Musim liburan pertengahan tahun 2009 ini, objek wisata Monkey Forest, Padangtegal, Ubud, ramai dikunjungi wisatawan. Ada turis domestik, banyak juga wisatawan mancanegara seperti dari Rusia , India , Jerman, Belanda , Australia , dan Amerika.
Minggu siang 21 Juni, misalnya, ada sekitar 200 pengunjung masuk ke hutan kera itu. Jumlah itu mungkin lebih besar kalau digabungkan dengan kunjungan Minggu pagi dan sore.
Harga tiket masuk adalah Rp 15.000 untuk dewasa dan Rp 7.500 untuk anak-anak.
Karena anak-anak agak takut pada kera, tentu saja jumlah pengunjung Monkey Forest lebih dominan orang dewasa. Anak-anak yang ikut biasanya berdebar-debar atau berani-berani takut.
“Bapak.., Bapak….wait for me, wait for me….,” ujar gadis kecil, memanggil ayahnya yang mendahului berjalan di depan. Panggilan gadis usia sekitar 8 tahun itu cukup terang terdengar di tengah hutan yang tidak begitu riuh. (more…)
Add comment June 21, 2009
Penyair Bali dan Riuh Debat RTRW
Oleh I Nyoman Darma Putra, Bali Post Minggu, 31 Mei 2009
DALAM riuh-rendahnya debat publik mengenai esensi dan substansi Ranperda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) beberapa pekan terakhir, penyair Bali kelihatan berpangku tangan alias tidak mengangkat pena.
Ini berbeda halnya dengan 15 tahun lalu, ketika Bali heboh dengan pro-kontra pembangunan BNR dan lapangan golf di Tanah Lot dan megaproyek lainnya di Bali Selatan. Saat itu, semangat resistensi atas megaproyek mengalir deras lewat banyak puisi penyair Bali, baik yang dimuat di media massa lokal maupun nasional.
Meski penyair Bali tidak menyuarakan aspirasinya kini, bukan berarti kontribusi mereka kosong. Justru, apa yang mereka lontarkan pertengahan tahun 1990-an masih sangat relevan sampai sekarang. (more…)
1 comment May 30, 2009
A New Theatre-State in Bali? Aristocracies, the Media and Cultural Revival in the 2005 Local Elections
Link to get the full article: http://sscs.massey.ac.nz/pdf/Macrae/Pilkada05ASR.pdf
Politik and Pilkada
Until recently, politik was a dirty word in Indonesia, “marked by a sinister tonality acquired after the political killings of the mid-1960s” (Pemberton, 1994, p. 4; see also Antlov, 2003, p. 75). After the fall of Suharto in 1998 and the end of his New Order [Orde Baru] regime, four changes of president in the following six years, and the successive programs of reformasi [reform], demokratisasi [democratisation] and desentralisasi [decentralisation], however, politics is back in the public domain. In Bali, where a studied apoliticism was raised to the level of an art sanctioned by religion (MacRae, 2003); the political has re-entered public life more gradually, with public figures now stepping into the formal political arena as candidates in free elections.
Link to get the full article: http://sscs.massey.ac.nz/pdf/Macrae/Pilkada05ASR.pdf
Add comment May 9, 2009
Speechless
The Jakarta Post , Jakarta | Sun, 07/01/2001 7:37 AM | Life
A short story by I Nyoman Darma Putra
Luh Puri yawned as she grated the coconut. Her eyes hurt, and as the afternoon went by she felt increasingly tired. She hadn’t slept well the night before. She never had much time for rest and last night’s sleep was even shorter than usual; if it wasn’t mosquitoes, it was the nightmares that kept her awake.
Yes, she was exhausted, but she still had half a container of sweet potato compote to sell. The street was deserted and the food stall empty of customers. Her neighbors said she didn’t have the knack for trade. They did, however, acknowledge her gift for dance when she appeared on stage. There, people said, is where she could really express herself, but every day found Luh Puri at the food stall trying to sell her wares. (more…)
Add comment April 30, 2009
Obituari:Djiwa Duarsa dan Kisah Formulir Fotokopi 1980
Bali kehilangan salah satu tokoh pendidikan yang penuh jasa melahirkan tenaga guru dalam rentang waktu lebih dari tiga dekade. Dialah Djiwa Duarsa yang dipanggil Yang Maha Kuasa, Selasa, 14 April 2009, dalam usia 83 tahun.
Lelaki asal Kerambitan, Tabanan, ini lahir 14 Oktober 1926. Dia pernah mengajar di Makassar dan kota lain di Indonesia, pernah mengelola majalah bahasa, aktif di partai, dan menjadi kepala sekolah guru yang terakhir bernama SPGN Denpasar selama 27 tahun (lihat tulisan Widminarko dalam situs ini).
Berikut adalah kesan seorang anak didiknya, I Nyoman Darma Putra, yang merasa mendapat banyak sentuhan semangat dan pekerti dari Pak Djiwa Duarsa selama dia menjadi murid di SPGN Denpasar, tahun 1977-1980. SPGN yang lokasinya di Jl Kamboja, dempet dengan asrama kepolisan Polda Bali, kini menjadi SMAN VII. (more…)
Add comment April 25, 2009
Pesta Kesenian Bali (PKB) senantiasa menjadi arena untuk menampilkan seni kreasi baru. Dalam pagelaran Selasa (23/6) lalu, sekaa angklung kebyar Werdi Ulangun Desa Ambengan, Buleleng, menampilkan kreasi baru tari topeng berjudul Ting.