Tumpek Landep: The Auspicious Ceremony for Sharpening Metallic Objects, Hearts and Minds.
Text and photos by Darma Putra
At least four times a year visitors to Bali will bear witness to cars and motorbikes cruising the streets of the island decorated with ‘sampian’ and ‘lamak’ – offerings made of young coconut leaves and fl owers. The decorations mark that the cars and motorbikes have been blessed through ceremonious rituals.
Such rituals take place on Kuningan and Tumpek Landep, both ‘pawukon’ days based on the Balinese lunar calendar that fall every six months (210 days). While ceremonies held on Kuningan are part of the great Hindu holiday of Galungan, a day in celebration of the glory of good against evil, thus not in connection with vehicles. (more…)
Buku Kontribusi Sastrawan Bali pada Perubahan Sosial
Selasa, 19 April 2011 | 16:07 WIB
TEMPO Interaktif, Denpasar – Sebuah buku yang mendokumentasikan dan mengkaji sumbangan para sastrawan Bali pada perubahan sosial dan pencarian identitas budaya diluncurkan di Denpasar. Buku berjudul A Literary Mirror: Balinese Reflections on Modernity and Identity in the Twentieth Century diangkat dari disertasi dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana, Bali, Nyoman Darma Putra.
Buku itu memuat ulasan mengenai karya sastra di Bali sejak masa kolonial hingga era kontemporer. “Penulis dari Bali turut mewarnai sekaligus memperkaya khazanah sastra Indonesia,” kata Darma Putra, Selasa (19/4) ini.
Sastrawan Bali Getol Menulis Cerita Konflik Kasta
Denpasar (Antara Bali) – Sastrawan Bali dinilai getol menulis tema konflik kasta, baik dalam bentuk puisi, cerpen, drama, maupun novel.
Konflik kasta telah menjadi tema utama karya sastra penulis Bali sejak zaman kolonial (1920-an) dan muncul berulang sampai sekarang, kata dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana, Dr I Nyoman Darma Putra, Senin (18/4) malam.
Ia menyampaikan hal itu dalam diskusi “Sastrawan Bali, dari Masa Kolonial hingga Kini” di Bentara Budaya Bali (BBB) Jalan By Pass Ida Bagus Mantra, Gianyar.
“Para pengarang kita yang menulis dalam bahasa Indonesia, biasanya menganggap perbedaan kasta mengingkari nilai kemanusiaan,” ucapnya.
Kasta adalah sistem stratifikasi sosial berdasarkan kelahiran. Dalam diskusi sastra itu dibahas buku A Literary Mirror; Balinese Reflections on Modernity and Identity in the Twentieth Century (2011) karya Darma Putra yang baru saja diterbitkan KITLV Press, Leiden.
Buku itu merupakan revisi atas disertasi Darma Putra yang dikerjakan ketika meraih gelar doktor dari School of Languages and Comparative Cultural Studies di University of Queensland, Australia.
Menurut Darma Putra, karya sastra modern pertama yang mengangkat konflik kasta adalah sebuah drama atau tonil berjudul “Kesetiaan Perempuan” yang dimuat bersambung di koran Surya Kanta tahun 1926.
Nama penulis tonil itu tidak disebutkan alias anonim, tetapi isinya jelas-jelas gagasan penolakan terhadap perbedaan status berdasarkan kelahiran (sistem kasta).
“Drama ini berpesan sistem kasta harus dihapus dan status seseorang semestinya ditentukan oleh budi dan prestasi intelektualitasnya,” ujarnya.
Dalam perkembangan sesudah kemerdekaan, kata Darma Putra, tema konflik kasta juga diangkat oleh sastrawan lain, seperti Nyoman Rasta Sindhu, Putu Wijaya, Gde Aryantha Soethama, dan Oka Rusmini.
Cerpen karya Rasta Sindhu “Ketika Kentongan Dipukul di Bale Banjar” yang mengangkat tema konflik kasta berhasil meraih hadiah sastra Horison sebagai cerpen terbaik tahun 1968.
Putu Wijaya dalam novel Bila Malam Bertambah Malam mengungkapkan status kasta sebagai sesuatu yang berlawanan dengan harkat kemanusiaan.
Prosa-prosa Oka Rusmini seperti Sagra dan Tarian Bumi juga mempersoalkan sisi gelap status social berdasarkan sistem kasta.
Cerpen-cerpen bertema konflik kasta yang sengit dan memukau juga terdapat dalam antologi cerpern karya Gde Aryantha Soethama dalam antologi Mandi Api Mandi Api, antologi yang meraih penghargaan Hadiah Sastra Khatulistiwa 2006.
“Perdebatan soal identitas kasta versus status berdasarkan pendidikan di Bali bisa dilihat sebagai bagian dari tema tradisional versus modern yang bersifat universal,” kata Darma Putra.
Ahli sastra Indonesia dan Jawa Kuna dari Amerika Serikat, Dr Thomas Hunter, dalam membahas buku A Literary Mirror; Balinese Reflections on Modernity and Identity in the Twentieth Century menilai buku ini merupakan kontribusi penting dalam studi sastra Indonesia dan budaya Bali terutama masalah identitas dan modernitas.
“Sejarah sastra Indonesia dari Bali diulas secara komprehensif dalam buku ini, mirip dengan yang dilakukan HB Jassin untuk sastra Indonesia pada zamannya,” kata Tom Hunter, penerjemah novel Burung-burung Manyar karya Mangunwijaya.(*)
sumber: http://bali.antaranews.com/berita/10500/sastrawan-bali-getol-menulis-cerita-konflik-kasta
Sastrawan Bali Kritik Lewat Tokoh Barat
Tuesday, March 29 2011 13:32 WIB | Taksu
“Sastrawan Bali melancarkan kritik terhadap adat dan tradisinya lewat tokoh barat atau orang untuk mengritik sejalan dengan makna ungkapan jangan mengaku diri pinter biar orang lain yang menilai,” kata Prof Darma Putra di Denpasar, Selasa. (more…)
Nyoman Manda Tulis Enam Novel Sejarah
DENPASAR, KOMPAS.com
–Nyoman Manda (73), sastrawan Bali kelahiran Gianyar, selama tahun 2010 tercatat menulis enam novel sejarah yang tiga di antaranya mengenai Perang Puputan Badung yang terjadi 23 September 1906, atau 105 tahun yang silam.
“Trilogi Puputan Badung yang ditulis Manda, menceriterakan perang habis-habisan antara rakyat yang dipimpin rajanya melawan penjajah Belanda,” kata Dr I Nyoman Darma Putra, dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Udayana di Denpasar, Rabu. (more…)
Universitas Sydney Rayakan 50 Tahun Studi Indonesia
Brisbane (ANTARA News) – Universitas Sydney (US) merayakan 50 tahun kehadiran Departemen Studi Indonesia (DIS) di lingkungan perguruan tinggi riset papan atas Australia itu pada 15 Agustus 2008.
Informasi dari Universitas Sydney yang dihimpun ANTARA News di Brisbane, Jumat, menyebutkan acara puncak peringatan “tahun emas” DIS itu ditandai dengan reuni para alumni yang turut dihadiri undangan dari unsur kedutaan besar, konsulat RI, Asosiasi Australia-Indonesia (AIA) dan Dewan Bisnis Australia-Indonesia (AIBC).
(more…)
Perkembangan Sastra Bali Modern 2010
| Perkembangan sastra Bali modern sepanjang tahun 2010 ditandai dengan beberapa hal yang menarik. Pertama, secara kuantitatif, jumlah buku yang terbit tahun 2010 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun 2009 terbit 9 buku, sedangkan tahun 2010 terbit 13 judul.
Kedua, munculnya novel-novel sejarah dalam sastra Bali modern, fenomena yang tampaknya mengikuti salah satu kecenderungan mutakhir dalam sastra Indonesia. Dari 13 judul buku sastra yang terbit 2010, terdapat enam novel sejarah, semuanya ditulis oleh Nyoman Manda, sastrawan kelahiran 1938 yang tekun dan setia mencipta walau usianya kini sudah memasuki 73 tahun. Ketiga, untuk pertama kalinya terbit buku sastra Bali modern yang menjadikan tragedi sosial-politik 1965/66 sebagai subtema atau tema utama. Sebelumnya, huru-hara politik pertengahan 1960-an yang mengakibatkan pembunuhan massal itu hanya muncul sebagai informasi sepintas kilas, bukan sub-tema apalagi sebagai tema pokok. (more…) |
Hadiah Sastera Rancage untuk Sastra Sunda, Jawa, dan Bali 2011
Keputusan: HADIAH SASTERA “RANCAGÉ” 2011
Dengan rido Allah SWT, alhamdulillah Hadiah Sastera ”Rancagé” tahun ini akan diserahkan untuk ke-23 kalinya buat sastera Sunda, yang ke-18 kalinya buat sastera Jawa, dan ke-15 kalinya untuk sastera Bali. Untuk sastera Lampung tahun ini tidak ada hadiah, karena tahun 2010 tidak ada buku yang terbit dalam bahasa Lampung.
Penerbitan buku, apalagi dalam bahasa ibu, tidak bisa berlangsung terus kalau tidak ada masyarakat yang membacanya. Penerbit buku dalam bahasa ibu sampai sekarang, kecuali dalam bahasa Sunda, terutama berupa perwujudan rasa cinta para anggota masyarakat yang mempunyai bahasa tersebut, umumnya atas usaha yayasan-yayasan atau perseorangan yang kebetulan punya uang.
Tapi biasanya buku-buku yang diterbitkan itu tidak sampai kepada masyarakat, karena yang menerbitkannya merasa puas setelah menyaksikan bukunya terbit, tidak memikirkan bagaimana mendistribusikannya supaya sampai kepada tangan pembaca.
Belakangan sasterawan Jawa yang sudah tiga kali mendapat hadiah Sastera “Rancagé”, Suparto Brata, memakai uang hadiah yang diterimanya untuk membiayai penerbitan bukunya, tapi pelaksanaannya diserahkan kepada penerbit komérsial. Cara demikian mémang salah satu jalan yang bisa ditempuh, tapi sebenarnya kehidupan penerbitan buku bahasa ibu itu harus digarap oléh penerbit komérsial secara profésional. Yang menjadi masalah, penerbit komérsial atau orang yang mempunyai modal, tidak percaya bahwa penerbitan buku dalam bahasa ibu bisa menguntungkan – paling tidak bisa “jalan”. Kebanyakan penerbit komérsial baru menerbitkan buku dalam bahasa ibu kalau ada “proyék” besar.
Tapi kasus penerbitan buku bahasa Sunda yang dilaksanakan oléh penerbit komérsial Kiblat Buku Utama secara profésional membuktikan bahwa menerbitkan buku bahasa ibu merupakan lapangan usaha yang rasional meskipun harus dihadapi dengan sabar. Yang penting harus menerbitkan buku dahulu sebanyak-banyaknya, sebab adanya buku itulah yang akan membangkitkan minat untuk membaca buku dalam bahasa ibu. Bagaimana masyarakat akan gemar membaca buku dalam bahasa ibu kalau bukunya tidak tersedia? (more…)
Pameran Lukisan Kritik Sosial Perupa Bali di Paros Gallery

Lady in Red, karya Wayan Sani, menggambarkan wanita seksi menanti 'pembeli', sebuah perlawanan terhadap citra wanita yang biasanya digambarkan 'pemalu'.
DENPASAR: Sebelas perupa menggelar pameran lukisan yang sarat kritik dan pesan dengan tajuk 10 + 1 = Lawan! Di Paros Gallery, Banjar Palak, Sukawati. Pameran dibuka Prof. Dr. I Gde Pitana, Kepala Badan Pembinaan Sumber Daya Budaya dan Pariwisata, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Jumat 24 Desember 2010 pukul 18.00 dan berlangsung hingga 24 Januari 2011. Pengantar pameran dalam katalog ditulis oleh pengamat budaya Bali, I Nyoman Darma Putra. (more…)
Menonton “Eat Pray Love” di Leiden, Ketut Liyer bikin Penonton Belanda Ketawa
Dari sekian banyak adegan dalam film “Eat Pray Love”, bagian yang menampilkan Ketut Liyer yang paling mengundang tawa serentak penonton Belanda. Yang membuat mereka ketawa mungkin antara lain karena melihat penampilan Ketut Liyer yang lugu, ompong, dan ucapan-ucapannya yang bernada canda seperti ‘see you later alligator’ (sampai jumpa nanti, buaya!).
Ketika Liyer diejek ompong ‘Ketut has no teeth’ (Ketut tak punya gigi), paranormal ini secara tidak langsung menyindir: ‘Think with your liver’ (Berfikirlah dengan hatimu) sambil menunjukkan gambar rerajahan manusia tanpa kepala. Sindiran filosofis ini seolah-olah dimaksudkan menyerang balik : untuk apa punya gigi, kepala pun tak perlu dalam menghadapi masalah pelik kehidupan, yang lebih penting adalah hati, perasaan. Sepotong pesan yang dalam yang menjadi sumbu amanat film ini.
Dalam arti sesungguhnya pun, Ketut Liyer benar karena dia tidak perlu gigi untuk makan (eat) spagheti. Tahapan hidupnya dan ajarannya sebagai paranormal hanya memerlukan hati (liver/heart) untuk ‘pray’ dan ‘love’. (more…)


