Archive for July, 2008

Cerita Puputan Tanpa Kesimpulan

Buku tentang Puputan Badung dari persepektif Belanda dan Bali (2006). Tanpa kesimpulan jadi pilihan mengambang.

Peringatan seabad perang antara Belanda dan kerajaan Badung diperingati di Denpasar, Bali Rabu pekan lalu. Ribuan orang mengiringi arak-arakan Gerebek Aksara sepanjang sekitar 100 km dari Karangasem ke Denpasar. Selain mengarak benda-benda pusaka, termasuk buku Sutasoma dan Negara Kertagama, juga ada parade kerajaan-kerajaan nusantara. Perang yang dikenal dengan nama Puputan Badung itu dikenang sebagai salah satu peristiwa besar, setidaknya bagi warga Denpasar.

Meski dianggap peristiwa besar, catatan sejarah tentang perang pada 20 September 1906 itu termasuk kurang. Kalau toh ada, berupa bahasa Belanda atau geguritan Bali dan Jawa kuno, bahasa yang susah dimengerti sebagian besar orang Bali saat ini. Maka, peneliti sejarah Bali University of Queensland Australia Helen Creese, guru besar Sejarah Asia Erasmus University Rotterdam Belanda Henk Schulte Nordholt, dan dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali Darma Putra menghimpun bahan-bahan tentang Puputan Badung dalam satu buku. Buku itu diluncurkan sehari sebelum puncak peringatan seabad Puputan Badung. (more…)

1 comment July 31, 2008

Kisah Mahasiswa Indonesia di Cina pada Tahun 1960-an

 Bali Post, 20 Mei 2007 http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/5/20/bud5.html

Judul                             :  Dunia Kampus yang Lain
Pengarang                    :  Arthanegara
Penerbit                        :  Panakom, 2007, 224 hlm.
Kata Pengantar            :  Nh Dini

NOVEL pendek ini berkisah tentang pengalaman mahasiswa Indonesia yang tugas belajar di negeri komunis Cina tetapi terpaksa pulang lebih cepat karena insiden G-30-S tahun 1965. Pada zaman Bung Karno, hubungan Indonesia-Cina lagi akur. Banyak mahasiswa Indonesia dikirim studi ke Cina. Peking jadi kota internasional karena di sana banyak mahasiswa luar negeri seperti dari Jepang, Thailand, Perancis, dan Aljazair. Dengan mahasiswa dari berbagai negara itulah mahasiswa Indonesia bergaul dan mencoba memahami perkembangan sosial politik internasional di sela-sela tugas utamanya untuk belajar.

Lewat tokoh Aku, novel ini mengisahkan suka-duka mahasiswa Indonesia belajar di Cina. Pendidikan ala Cina dilukiskan sangat ketat, disiplin tinggi, dan segalanya diatur lewat bel. Ada bel bangun pagi, bel cuci muka, bel makan, dan bel-bel lain sepanjang hari. Walaupun merasa tertekan, para mahasiswa Indonesia dilukiskan dengan cepat bisa berbahasa dan menulis huruf Cina. (more…)

1 comment July 30, 2008

Bali dalam Kutipan, 1973

Ritual Melasti

…the traditions of Bali will prosper in direct proportion to the success of the tourist industry. Far from destroying, ruining, or “spoiling” the culture of Bali, I am arguing here that the advent and increase of tourists is likely to fortify and foster the arts: dance, music, architecture, carving and painting.

 Philip McKean, “Cultural Involution: Tourists, Balinese, and the Process of Modernization in an Anthropological Perspective” (PhD dissertation, Brown University, 1973),p. 1.

Add comment July 30, 2008

Bali dalam Kutipan, 2005

“Jarang suatu tempat diwacanakan secara sedemikian kuat dan normatif seperti Pulau Bali, hingga terkonstruksi suatu pandangan tentang kebudayaan dan masyarakat itu yang, meskipun jauh dari situasi sesungguhnya, dianggap lebih “nyata” dari kenyataan itu sendiri dan bahkan lambat-laun menjadi bagian tak terpisahkan dari kenyataan”.

 Jean Couteau, dalam kata pengantar kumpulan cerpen Samsara karya Putu Fajar Arcana  (2005:vii-viii)

Add comment July 30, 2008

Bali dalam Kutipan, 1951

Bali has something that is to be found nowhere else in Southeast Asia-a living, vital culture that is purely Asian and that has produced a happy people. For this alone, Bali merits the most sympathetic understanding and attention.

 John Coast, “The Clash of Cultures in Bali”, Pacific Affairs, Vol. 24, No. 4. (Dec., 1951), pp. 398-406.

 

 

 

Add comment July 28, 2008

The Cultural Congress and the Fate of the Art Center

http://balidiscovery.com/messages/message.asp?Id=4593&Text=darma putra

art centerThe Cultural Congress which was held for the first time on June 14th may discuss various issues connected with Bali’s culture, but it can’t ignore the fate of Bali’s Art Centre. Now more than 3 decades old, the glamour of the Art Centre and home to the Bali Arts Center has faded and in some way resembles some sort of prehistoric site.

In its current fragile state, Bali’s Art Centre stands as a paradox on an island that is very proud of its cultural performing arts but is without a representative stage on which to present them.

Seen from the perspective street and stage culture (Kadir H. Din 1999), it can be said that Bali is rich in street culture, but poor in stage culture. (more…)

Add comment July 27, 2008

Makna Liputan Media Dunia atas Kremasi Ubud

Bali Post, Sabtu, 26 Juli 2008

I Nyoman Darma Putra

 

foto Reuters

foto Reuters

UPACARA kremasi almarhum Tjokorda Gde Agung Suyasa (Selasa, 15/7) mendapat liputan luas media massa dari semua penjuru benua, mulai dari Afrika, Eropa, Amerika, Australia dan tentu saja Asia. Kiranya tidak ada peristiwa adat dan tradisi di Nusantara yang pernah mendapat liputan seluas dan seantusias kremasi bangsawan Ubud di awal milineum ini.

Di Benua Afrika, berita kremasi disiarkan koran The Mercury, di Timur Tengah Gulf Times (Qatar), lalu The New York Times dan koran lain di Amerika, International Herald Tribune (edisi global New York Times), ABC Australia, Reuters dan BBC di Eropa. Koran-koran nasional seperti Kompas, The Jakarta Post, dan kantor berita Antara juga antusias memberitakan prosesi kremasi Ubud.

Tepatlah langkah bagian pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk memfasilitasi pusat informasi (media centre) untuk mendapatkan efek promosi maksimal dari kremasi ini, tanpa mengganggu jalannya prosesi sesuai tradisi. Promosi ini penting artinya, karena Amerika belum lama lalu mencabut travel warning-nya ke Indonesia, termasuk Bali. (more…)

Add comment July 26, 2008

Australia Hanya Punya Satu Pilihan di Pilkada Bali

 Oleh Rahmad Nasution

http://rnasution.blogspot.com/search?q=pastika

 

Pemilihan langsung gubernur Bali 9 Juli 2008 tidak hanya menyita perhatian warga Bali di manapun. Pesta demokrasi yang diikuti tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur itu juga ikut mencuri perhatian publik Australia.

Setidaknya perhatian publik Australia terhadap Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung yang baru pertama kali dilakukan dalam sejarah Provinsi Bali itu tercermin dari pemberitaan Harian “The Age” edisi 28 Juni 2008.

Adalah I Made Mangku Pastika sosok yang menarik perhatian publik negeri jiran di selatan Indonesia itu. (more…)

2 comments July 26, 2008

Kongres Kebudayaan dan Nasib Art Centre

Bali Post, Sabtu, 14 Juni 2008

I Nyoman Darma Putra

 
 

KONGRES Kebudayaan yang untuk pertama kalinya dilaksanakan 14 Juni ini boleh saja membahas berbagai masalah kebudayaan Bali, tetapi tidak sepantasnya mengabaikan nasib Art Centre. Dalam usianya yang lebih dari tiga dekade, pesona Art Centre tempat Pesta Kesenian Bali (PKB) digelar kini sangat pudar, bahkan tak ubahnya seperti situs purbakala.Dalam kondisinya yang rapuh, Art Centre merupakan paradoks bagi Bali yang kaya akan seni budaya tetapi tidak memiliki panggung kesenian yang membanggakan untuk mementaskan kesenian tersebut. Dilihat dari kategori budaya tentang street culture dan stage culture (Kadir H Din 1999), boleh dikatakan bahwa Bali kaya akan street culture, tetapi miskin akan stage culture.

Street culture artinya budaya yang bisa disaksikan di jalan, bukan di panggung. Inilah seni budaya yang hidup di masyarakat, yang dilakoni masyarakat sebagai bagian dari adat. Contohnya melasti, ogoh-ogoh, ngelawang, dan aneka prosesi adat lainnya. Pengunjung yang datang ke Pulau Dewata dengan mudah bisa memergoki pawai atau prosesi seni alias street culture saat mereka melenggang di jalan-jalan di kota atau di desa.

Stage culture adalah budaya yang dipentaskan di panggung. Kalau dalam street culture tidak diperlukan panggung, dalam stage culture panggung atau gedung pertunjukan harus ada. (more…)

Add comment July 26, 2008

Politik Lagu Pop Bali

Kompas, Minggu, 14 Maret 2004

I Nyoman Darma Putra

 

MENJELANG Pemilu 2004, belantika musik pop Bali diwarnai dengan munculnya lagu-lagu bertema kritik sosial dan politik. Hal ini memang bukan merupakan fenomena baru dalam perjalanan lagu pop Bali sejak kelahirannya awal tahun 1960-an di tengah konfrontasi partai politik. Meski demikian, kehadiran lagu-lagu bertema kritik sosial dan politik belakangan ini pantas dicatat karena dia muncul dalam suasana pemilu dan lirik-lirik lagunya secara blakblakan mengecam pejabat korupsi atau bentuk KKN lainnya. Selain itu, lagu-lagu tersebut dinyanyikan dengan musik pop-rock atau rap yang digemari anak-anak muda perkotaan.

 

Lagu pop Bali yang dulu dianggap kampungan oleh anak muda, kini disambut bangga pelajar dan mahasiswa serta dimainkan dalam perayaan hari jadi sekolah atau fakultas-fakultas. Mengentalnya wacana identitas Bali berdasarkan budaya (cultural identity) di era otonomi ini, juga ikut memperluas dan mempermulus ruang gerak lagu pop Bali ke teritori baru di mana dulu kehadirannya tidak pernah disambut. (more…)

Add comment July 18, 2008

Previous Posts


Top Posts

Blog Stats

 

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Recent Posts

Archives