Archive for July 26th, 2008

Makna Liputan Media Dunia atas Kremasi Ubud

Bali Post, Sabtu, 26 Juli 2008

I Nyoman Darma Putra

 

foto Reuters

foto Reuters

UPACARA kremasi almarhum Tjokorda Gde Agung Suyasa (Selasa, 15/7) mendapat liputan luas media massa dari semua penjuru benua, mulai dari Afrika, Eropa, Amerika, Australia dan tentu saja Asia. Kiranya tidak ada peristiwa adat dan tradisi di Nusantara yang pernah mendapat liputan seluas dan seantusias kremasi bangsawan Ubud di awal milineum ini.

Di Benua Afrika, berita kremasi disiarkan koran The Mercury, di Timur Tengah Gulf Times (Qatar), lalu The New York Times dan koran lain di Amerika, International Herald Tribune (edisi global New York Times), ABC Australia, Reuters dan BBC di Eropa. Koran-koran nasional seperti Kompas, The Jakarta Post, dan kantor berita Antara juga antusias memberitakan prosesi kremasi Ubud.

Tepatlah langkah bagian pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk memfasilitasi pusat informasi (media centre) untuk mendapatkan efek promosi maksimal dari kremasi ini, tanpa mengganggu jalannya prosesi sesuai tradisi. Promosi ini penting artinya, karena Amerika belum lama lalu mencabut travel warning-nya ke Indonesia, termasuk Bali. (more…)

Add comment July 26, 2008

Australia Hanya Punya Satu Pilihan di Pilkada Bali

 Oleh Rahmad Nasution

http://rnasution.blogspot.com/search?q=pastika

 

Pemilihan langsung gubernur Bali 9 Juli 2008 tidak hanya menyita perhatian warga Bali di manapun. Pesta demokrasi yang diikuti tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur itu juga ikut mencuri perhatian publik Australia.

Setidaknya perhatian publik Australia terhadap Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung yang baru pertama kali dilakukan dalam sejarah Provinsi Bali itu tercermin dari pemberitaan Harian “The Age” edisi 28 Juni 2008.

Adalah I Made Mangku Pastika sosok yang menarik perhatian publik negeri jiran di selatan Indonesia itu. (more…)

2 comments July 26, 2008

Kongres Kebudayaan dan Nasib Art Centre

Bali Post, Sabtu, 14 Juni 2008

I Nyoman Darma Putra

 
 

KONGRES Kebudayaan yang untuk pertama kalinya dilaksanakan 14 Juni ini boleh saja membahas berbagai masalah kebudayaan Bali, tetapi tidak sepantasnya mengabaikan nasib Art Centre. Dalam usianya yang lebih dari tiga dekade, pesona Art Centre tempat Pesta Kesenian Bali (PKB) digelar kini sangat pudar, bahkan tak ubahnya seperti situs purbakala.Dalam kondisinya yang rapuh, Art Centre merupakan paradoks bagi Bali yang kaya akan seni budaya tetapi tidak memiliki panggung kesenian yang membanggakan untuk mementaskan kesenian tersebut. Dilihat dari kategori budaya tentang street culture dan stage culture (Kadir H Din 1999), boleh dikatakan bahwa Bali kaya akan street culture, tetapi miskin akan stage culture.

Street culture artinya budaya yang bisa disaksikan di jalan, bukan di panggung. Inilah seni budaya yang hidup di masyarakat, yang dilakoni masyarakat sebagai bagian dari adat. Contohnya melasti, ogoh-ogoh, ngelawang, dan aneka prosesi adat lainnya. Pengunjung yang datang ke Pulau Dewata dengan mudah bisa memergoki pawai atau prosesi seni alias street culture saat mereka melenggang di jalan-jalan di kota atau di desa.

Stage culture adalah budaya yang dipentaskan di panggung. Kalau dalam street culture tidak diperlukan panggung, dalam stage culture panggung atau gedung pertunjukan harus ada. (more…)

Add comment July 26, 2008


Top Posts

Blog Stats

 

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Recent Posts

Archives