Archive for July 30th, 2008
Kisah Mahasiswa Indonesia di Cina pada Tahun 1960-an
Bali Post, 20 Mei 2007 http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/5/20/bud5.html
Judul : Dunia Kampus yang Lain
Pengarang : Arthanegara
Penerbit : Panakom, 2007, 224 hlm.
Kata Pengantar : Nh Dini
NOVEL pendek ini berkisah tentang pengalaman mahasiswa Indonesia yang tugas belajar di negeri komunis Cina tetapi terpaksa pulang lebih cepat karena insiden G-30-S tahun 1965. Pada zaman Bung Karno, hubungan Indonesia-Cina lagi akur. Banyak mahasiswa Indonesia dikirim studi ke Cina. Peking jadi kota internasional karena di sana banyak mahasiswa luar negeri seperti dari Jepang, Thailand, Perancis, dan Aljazair. Dengan mahasiswa dari berbagai negara itulah mahasiswa Indonesia bergaul dan mencoba memahami perkembangan sosial politik internasional di sela-sela tugas utamanya untuk belajar.
Lewat tokoh Aku, novel ini mengisahkan suka-duka mahasiswa Indonesia belajar di Cina. Pendidikan ala Cina dilukiskan sangat ketat, disiplin tinggi, dan segalanya diatur lewat bel. Ada bel bangun pagi, bel cuci muka, bel makan, dan bel-bel lain sepanjang hari. Walaupun merasa tertekan, para mahasiswa Indonesia dilukiskan dengan cepat bisa berbahasa dan menulis huruf Cina. (more…)
1 comment July 30, 2008
Bali dalam Kutipan, 1973
…the traditions of Bali will prosper in direct proportion to the success of the tourist industry. Far from destroying, ruining, or “spoiling” the culture of Bali, I am arguing here that the advent and increase of tourists is likely to fortify and foster the arts: dance, music, architecture, carving and painting.
Philip McKean, “Cultural Involution: Tourists, Balinese, and the Process of Modernization in an Anthropological Perspective” (PhD dissertation, Brown University, 1973),p. 1.
Add comment July 30, 2008
Bali dalam Kutipan, 2005
“Jarang suatu tempat diwacanakan secara sedemikian kuat dan normatif seperti Pulau Bali, hingga terkonstruksi suatu pandangan tentang kebudayaan dan masyarakat itu yang, meskipun jauh dari situasi sesungguhnya, dianggap lebih “nyata” dari kenyataan itu sendiri dan bahkan lambat-laun menjadi bagian tak terpisahkan dari kenyataan”.
Jean Couteau, dalam kata pengantar kumpulan cerpen Samsara karya Putu Fajar Arcana (2005:vii-viii)
Add comment July 30, 2008
