Tiga Topik Dominan Buku tentang Bali

December 21, 2008 at 11:53 am 1 comment

Oleh I Nyoman Darma Putra

dscn2240

DALAM setengah abad terakhir, tulisan tentang Bali, baik yang terbit di media massa maupun dalam bentuk buku, didomininasi tiga topik utama. Ketiga topik tersebut adalah masalah politik, masalah budaya-adat, dan dampak pariwisata.

Tema lain seperti lingkungan, kesehatan, dan gender juga muncul tetapi dalam penggarapannya sering dikaitkan dengan ketiga topik di atas. Misalnya, kajian tentang lingkungan dan AIDS biasanya dilihat sebagai dampak pariwisata. Situasi sosial politik mempengaruhi timbul-tenggelamnya ketiga topik dominan itu.

Masalah politik menjadi topik dominan tulisan-tulisan yang muncul pada zaman Orde Lama 1960-an. Euforia politik zaman Presiden Sukarno dan konflik antara aktivis Lekra (pro-PKI) dan Lembaga Kebudayaan Nasional alias LKN (pro-PNI) membuat banyak puisi, cerpen dan drama ditulis atau dipentaskan untuk propaganda politik.

Cerpen yang muncul waktu itu misalnya “Cintanya untuk Api Revolusi” karya IGB Arthanegara atau puisi “Anak Marhaen” karya Ngurah Parsua. Lagu-lagu janger diciptakan dengan pesan “ganyang Malaysia” atau membakar spirit membebaskan Irian Barat.

Setelah Sukarno jatuh, Presiden Suharto berkuasa. Regimnya menerapkan strategi depolitisasi. Tidak dibenarkan lagi menjadikan sastra dan seni sebagai alat propaganda politik. Perwujudan stabilitas nasional dan pembangunan ekonomi sering dijadikan alasan untuk mengekang kebebasan berekspresi. Buktinya, waktu itu novel yang hendak diterbitkan harus mendapat izin Komdak (Komanda Daerah Kepolisian).

Adat dan Pariwisata

Ketatnya kontrol pemerintah membuat tumbuhnya sikap self-cencorship atau swasensor di kalangan budayawan, intelektual. Daripada menulis soal-soal politik dengan risiko berurusan dengan aparat keamanan, mereka lebih banyak menggali masalah budaya atau kasus adat dan dampak pariwisata yang “jauh” dari politik dan kritik atas Orde Baru.

Cerpen Rasta Sindhu “Ketika Kentongan Dipukul di Bale Banjar” yang bertema konflik kasta adalah contohnya. Cerpen ini ditetapkan sebagai terbaik Horison tahun 1969. Rasta Sindhu, wartawan dan cerpenis terbaik Bali waktu itu, juga menulis cerita berlatar pariwisata, misalnya “Sahabatku Hans Schmitter”, kisah simpati tentang hippies.

Tahun 1970-an, Putu Wijaya menulis dua novel masing-masing “Bila Malam Bertambah Malam” yang mengangkat masalah kasta, sedangkan “Tiba-tiba Malam” (TM) tampil dengan topik adat dan dampak pariwisata. Tokoh David dalam novel “Tiba-tiba Malam” menanamkan nilai Barat pada Subali dan mengajak tokoh Bali ini untuk memprotes adat yang ketinggalan zaman. Akibat ulahnya yang tidak pernah aktif di desa, Subali dijatuhi sanksi kasepekang.

Novel “Leak Ngakak” (1978) karya Putra Mada adalah contoh lain novel yang a-politis. Novel ini melukiskan kisah mahasiswi Australia yang datang ke Bali untuk belajar black magic. Ketika diangkat ke layar perak, film “Leak Ngakak” ini laris ditonton di seluruh pelosok Bali. Pemerintah tak perlu repot menyensornya karena kisahnya tak berurusan dengan topik politik.

Contoh sastra yang mengangkat tema tentang kasus adat dan dampak pariwisata secara tersendiri atau gabungan keduanya juga bisa dibaca dari karya-karya penulis produktif Bali lainnya seperti Sunaryono Basuki, Gde Aryantha Soethama dan Oka Rusmini. Aryantha Soethama, misalnya, menulis novelet “Suzan” (1988), kemudian diterbitkan dengan judul “Wanita Amerika Dibunuh di Ubud”, hadir dengan latar pariwisata dan wacana adat boleh tidaknya orang asing yang mati di Bali dikremasi secara Hindu.

Buku non-fiksi yang terbit pada zaman jaya-jayanya Orde Baru juga berurusan tentang adat. “Menggugat Bali” (1986) karya Putu Setia menyinggung pengaruh politik tetapi secara umum buku ini membahas perjalanan seni, budaya dan adat Bali dari waktu ke waktu. Contohnya lain, buku karya duet Ketut Wiana dan Raka Santeri berjudul “Kasta dalam Hindu, Kesalahpahaman Beradab-abad” (1991), jauh dari politik.

Zaman kekuasaan Suharto, buku politik tentang Bali nyaris tidak ada, kecuali yang terbit di luar negeri seperti “The Dark Side of Paradise, Political Violence in Bali” (1995) karya Geoffrey Robinson, yang beberapa waktu lalu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Sisi Gelap Pulau Dewata Sejarah Kekerasan Politik”.

Politik Muncul Lagi

Topik politik yang sempat “tenggelam” zaman Orde Baru kembali menjadi sumber inspirasi sejak reformasi. Sastrawan atau intelektual lainnya yang dari dulu menahan diri menulis ihwal politik, sejak reformasi mulai mengangkat masalah isu sosial dan politik.

Buku-buku nonfiksi tentang politik mulai banyak muncul, seperti yang ditulis Ngurah Suryawan, termasuk buku “Bali, Narasi dalam Kuasa: Politik dan Kekerasan di Bali (2005) dan “Sandyakalaning Tanah Dewata: Suara Perlawanan dan Pelenyapan” (2005). Pun dengan hadirnya terjemahan “The Dark Side of Paradise”. Jika Orde Baru masih berkuasa, buku-buku seperti ini tidak mungkin bisa terbit.

Novel “Dunia Kampus yang Lain” (2007) karya IGB Arthanegara yang mengisahkan romantika mahasiswa Indonesia tugas belajar di Cina tahun 1960-an baru “berani” terbit setelah jatuhnya Orde Baru. Walaupun novel ini berkisah tentang nasionalisme dalam konteks anti-komunisme, sulit membayangkan apa jadinya novel ini kalau terbit pada Orde Baru: entah dilarang atau tidak.

Buku Widya Pataka

Tahun 2008, Perpustakaan Daerah Bali dalam kerangka anugerah Widya Pataka menerbitkan 10 buku karya penulis Bali, lima di antaranya dibahas dalam diskusi di Undiksha Singaraja, Senin (15/12) lalu. Kelima buku yang dibahas itu mencerminkan hadirnya tiga tema dominan yaitu politik, masalah budaya-adat, dan dampak pariwisata.

Buku “Bali dalam Kuasa Politik” karya I Nyoman Darma Putra dan “Elit Lokal Bali” karangan AA Gede Oka Wisnumurti (tidak dibedah) dari judulnya saja sudah mencerminkan pembahasan politik lokal Bali. Demikina juga buku kumpulan cerpen “Petarung Jambul” karya Gde Artawan berisi cerpen-cerpen yang mengambil tema politik. Cerpen “Luka”, misalnya, melukiskan rintihan pohon-pohon yang terluka karena batang-batangnya diikat kawat dan dipaku oleh para caleg untuk memasang spanduk kampanye. Perilaku politikus dikritik pedas dalam cerpen ini.

Kecenderungan Gde Artawan menulis cerpen bergaya absurd mengingatkan kita akan karya-karya Iwan Simatupang dan Danarto. Absurd atau surealis adalah gaya yang sah dalam penulisan tetapi sejarah sastra membuktikan peminat karya realis jauh lebih luas daripada yang absurd sehingga kelak Artawan mungkin tertarik menulis kisah-kisah realis tanpa tertutup untuk menggunakan simbol atau metafora demi estetika.

Buku “Kembali ke Bali” karya I Wayan Artika juga berbicara tentang politik. Di samping itu, ulasannya terhadap kehidupan sosial budaya Bali dilakukan dengan sangat kritis ditunjang kerangka pikir dan konsep yang jelas dan kuat. Artika bisa dikatakan salah satu dari sedikit penulis Bali yang sangat berbakat. Tulisannya jernih, jelas, dan dalam.

Hanya saja sikap Artika yang tergopoh-gopoh dan kurang diplomatis membuat pendapat-pendapatnya dalam buku ini cepat kedaluwarsa atau mengandung kontradiksi internal. Misalnya, di satu tulisan dia menyebutkan seniman Bali abai akan kehadiran new media (televisi, VCD, internet, dll). Dalam tulisan lain dia menyebutkan seniman Bali cekatan memanfaatkan media baru ini seperti aktivitas geguritan interaktif di radio/tv. Kalau mau sabar, kontradiksi internal seperti ini tak perlu muncul dalam buku ini.

Drama-drama karya karya Gus Martin dalam “Peti” dan novel “Hanya Nestapa” ditulis dengan latar belakang industri pariwisata. Drama “Peti” misalnya, melukiskan romantika kehidupan perkawinan seorang penari Indonesia dengan pelukis Australia yang semula sempat retak tetapi akhirnya happy ending. Tuan Daniel, pelukis Australia, setelah rukun mengajak istrinya Rumitni untuk berlibur ke Australia. Drama pendek ini menarik karena jenaka dan dilukiskan penuh dengan tegangan, konflik dan trik surprise.

Kejenakaan Gus Martin yang sehari-hari bekerja sebagai kartunis Bali Post tercermin kuat dalam hampir semua naskah drama yang termuat dalam buku “Peti” ini. Namun, berbeda dari kartun-kartunnya yang menyoroti dinamika sosial budaya Bali, drama-drama Gus Martin jauh dari minat menggarap tema yang secara spesifik berkaitan dengan budaya Bali. Justru di sanalah letak kelebihannya karena drama ini memiliki potensi audiens yang luas, tidak ada gap budaya di mana dan kapan pun dia dipentaskan.

Kalau drama “Peti” berakhir dengan happy ending, novel “Hanya Nestapa” karya Sunaryono Basuki berakhir dengan sad ending. Tokoh utama novel adalah pengusaha biro perjalanan yang sukses tetapi dua kali dia diterjang sial: pacar yang hendak dinikahinya meninggal disikat bom tahun 2005. Setelah dia berusaha mencari lagi, nyawa pacar keduanya pun terenggut dalam serangan bom 2005. Perkawinan tidak terjadi, yang tersisa “hanya nestapa”.

Seperti dikritik oleh Kadek Sonya Piscayanti di Bali Post (7/12), novel ini tidak menyediakan ruang yang cukup untuk menggali konflik kejiwaan dan wacana konspirasi di balik bom Bali yang sempat diperkenalkan penulisnya di awal-awal cerita. Meski demikian, “Hanya Nestapa” menyumbangkan catatan dalam bentuk cerita tentang kepedihan jiwa yang dialami warga Bali secara personal akibat serangan terorisme.

Bom Bali tidak saja menghancurkan bisnis pariwisata tetapi membuat hidup banyak warga didera nestapa. Jika dibaca dari sini, novel ini bisa membangun kebencian kepada pelaku terorisme, dan melupakan dugaan teori konspirasi (yang sempat diungkit sekadarnya dalam novel ini) bahwa ledakan bom Bali itu adalah nuklir kecil yang “diragukan” hasil kerjaan oknum teroris dalam negeri.

Supercepat dan Radikal

Apa pun, penulis yang karyanya diterbitkan dalam kerangka anugerah Widya Pataka telah mencoba tidak saja mencatat apa yang terjadi tetapi menawarkan perspektifnya terhadap perubahan supercepat dan radikal di Bali dewasa ini.

Tapi, sumbangan pemikiran yang diberikan para penulis selama ini harus dikatakan masih kecil dibandingkan dengan banyaknya persoalan yang muncul. Masih banyak yang perlu ditulis dan diterbitkan sebagai buku. Tampaknya, ketiga tema besar, masalah politik, budaya-adat, dan dampak pariwisata masih akan mendominasi isi buku-buku tentang Bali!

* Penulis adalah dosen Faksas Unud. Tulisan ini merupakan revisi dari makalah yang disampaikan dalam bedah buku di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha, Singaraja.

Bali Post, Minggu, 21 Desember 2008

http://balipost.co.id/mediadetail.php?module=kategoriminggu&kid=15&id=Budaya

Entry filed under: Hello Bali. Tags: , , , , .

Seni Tari Bali Tak akan Mati Mengapa ‘Gajah Mada Town Festival’?

1 Comment Add your own

  • 1. jeff satria  |  March 4, 2009 at 6:07 am

    smoga perkembangan produksi buku&karya sastra di bali trus maju!!!gw suka banget baca buku2 ato karya sastra tentang bali walaupun gw bukan orang bali….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 66,995 hits
December 2008
M T W T F S S
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Recent Posts


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: