Archive for June, 2009
Meninjau Kembali Sejarah Drama Gong
DALAM dialog budaya tentang sendratari, drama gong, dan gong kebyar di sela-sela Pesta Kesenian Bali (PKB XXXI di Taman Budaya Denpasar, Senin (22/6) lalu, disinggung sepintas mengenai awal munculnya drama gong. Disebutkan bahwa drama gong lahir pada 1966 (pasca-G30S), tokohnya adalah Anak Agung Raka Payadnya. Sejak tahun itu drama gong dianggap berkembang dan berbiak ke seluruh Bali.
Pendapat itu terus didaur-ulang sejak dulu, baik oleh sarjana Bali maupun luar negeri. Padahal, ada bukti lain yang menunjukkan bahwa cikal bakal drama gong sudah ada setidaknya sejak akhir 1959, ditandai dengan munculnya drama “Mayadenawa” yang diiringi gamelan dan pemainnya berbusana Bali. Namanya drama atau drama klasik, tetapi bentuknya tidak ubahnya bentuk awal drama gong. (more…)
Add comment June 28, 2009
Tiap Orang Bali adalah Seniman, Termasuk yang Cacat

Dalam buku klasiknya Island of Bali (1938), antropolog asal Meksiko Miguel Covarrubias menulis bahwa setiap orang Bali adalah seniman. Dia menyebutkan contoh seniman dari kalangan petani sampai pendeta, buruh sampai bangsawan, laki dan perempuan.
Kalau saja Covarrubias masih hidup dan sempat menonton pagelaran di Pesta Kesenian Bali (PKB) Juni-Juli 2009 ini, dia mungkin bangga dan terharu. Bangga, karena dia bisa membuktikan bahwa dalilnya yang diucapkan hampir 80 tahun lalu kian menemukan kebenarannya.
Terharu, karena dia akan melihat bahwa yang bisa diberikan predikat sebagai seniman tidak saja orang normal dan orang dewasa, tetapi juga anak-anak dan remaja, serta orang-orang cacat, tuna netra, patah kaki, polio, tuna rungu, tuna-netra, dan seterusnya.
Penampilan mereka di panggung PKB mengharukan hati. Kian menyentuh karena mereka menari menggunakan tongkat atau kursi roda. (more…)
Add comment June 28, 2009
Monkey Forest Ubud Suatu Hari, “Bapak, wait for me…wait for me..!”
Teks Darma Putra, Foto Ary Bestari
Musim liburan pertengahan tahun 2009 ini, objek wisata Monkey Forest, Padangtegal, Ubud, ramai dikunjungi wisatawan. Ada turis domestik, banyak juga wisatawan mancanegara seperti dari Rusia , India , Jerman, Belanda , Australia , dan Amerika.
Minggu siang 21 Juni, misalnya, ada sekitar 200 pengunjung masuk ke hutan kera itu. Jumlah itu mungkin lebih besar kalau digabungkan dengan kunjungan Minggu pagi dan sore.
Harga tiket masuk adalah Rp 15.000 untuk dewasa dan Rp 7.500 untuk anak-anak.
Karena anak-anak agak takut pada kera, tentu saja jumlah pengunjung Monkey Forest lebih dominan orang dewasa. Anak-anak yang ikut biasanya berdebar-debar atau berani-berani takut.
“Bapak.., Bapak….wait for me, wait for me….,” ujar gadis kecil, memanggil ayahnya yang mendahului berjalan di depan. Panggilan gadis usia sekitar 8 tahun itu cukup terang terdengar di tengah hutan yang tidak begitu riuh. (more…)
Add comment June 21, 2009
Pesta Kesenian Bali (PKB) senantiasa menjadi arena untuk menampilkan seni kreasi baru. Dalam pagelaran Selasa (23/6) lalu, sekaa angklung kebyar Werdi Ulangun Desa Ambengan, Buleleng, menampilkan kreasi baru tari topeng berjudul Ting.