Perpanjangan Visa Turis: Terobosan Baru, Aspirasi Lama

February 2, 2010 at 9:29 am 2 comments

Makin lama turis tinggal di Bali makin laris tempat makan seperti halnya kafe di Jimbaran yang favorit bagi wisatawan asing. Foto Darma Putra

Bali Post, Selasa, 2 Februari 2010.

BERTEPATAN dengan Hari Bakti Keimigrasian, 26 Januari lalu, Departemen Hukum dan HAM mengumumkan terobosan yang mengizinkan perpanjangan atas visa turis, biasa disebut VoA (Visa on Arrival). Terobosan ini merupakan salah satu dari sejumlah program 100 hari kerja Kabinet SBY di bidang Hukum dan HAM.

Kebijakan mengizinkan perpanjangan visa turis ini tampaknya merupakan respons pemerintah terhadap aspirasi lama dari kalangan wisatawan dan pelaku pariwisata di Indonesia umumnya dan Bali khususnya.

BVKS dan VOA

Dalam ketentuan-ketentuan sebelumnya, visa turis tidak bisa diperpanjang. Awal tahun 1980-an, pemerintah memberikan bebas visa kunjungan singkat (BVKS) selama dua bulan. Sesudah masa visa dua bulan habis, wisatawan harus pergi dari Indonesia. Kalau mereka ingin mendapat BVKS lagi, mereka harus pergi dari Indonesia dulu dan kemudian masuk lagi.

BVKS dicabut 2003 dan diganti dengan VoA. Semula gagasan ini ditolak masyarakat Bali karena saat itu Bali baru saja diterpa serangan terorisme dan menyurutkan niat wisatawan berlibur ke Bali. Tetapi, pemerintahan Presiden Megawati waktu itu memutuskan VoA diberlakukan dengan menawarkan dua jenis visa, yaitu visa 7 hari (biayanya $10) dan visa 30 hari ($25).

Ada perbedaan antara BVKS dan VoA. Perbedaannya, BVKS gratis, VoA bayar. Persamaannya, kedua jenis visa ini sama-sama tidak bisa diperpanjang. Untuk VoA ada perkecualian, yakni perpanjangan dimungkinkan kalau (a) terjadi bencana alam di daerah pemegang VoA, dan (b) pemegang VoA tertimpa kecelakaan atau sakit. Di luar alasan itu, turis harus cabut dari Indonesia begitu masa visa habis, kalau tinggal lebih (over stay) mereka kena denda.

Pergi Pagi, Sore Datang

Wisatawan yang belum puas berlibur di Indonesia namun visanya habis dengan terpaksa pergi ke luar negeri untuk kemudian balik lagi ke Indonesia (biasanya) pada hari yang sama. Yang umum dilakukan wisatawan adalah, pagi mereka terbang ke negeri yang dekat-dekat agar hemat seperti Singapura atau Australia khususnya Darwin dan Perth, sore hari atau beberapa hari kemudiannya mereka terbang balik ke Indonesia.

Begitu mereka tiba, mereka bisa mendapat VoA lagi. Untuk terbang ke Singapura atau Darwin, jelas wisatawan memerlukan biaya tiket. Jika menginap, mereka harus membayar akomodasi. Hal ini jelas tidak praktis. Pelaku pariwisata dan wisatawan sering heran mengapa pemerintah tidak membuat urusan visa menjadi praktis.

Mereka menyarankan untuk BVKS atau VoA perpanjangannya bisa dilakukan di Indonesia tanpa harus pergi ke luar negeri lalu datang lagi sebagai layaknya pengunjung baru. Perpanjangan VoA akan dapat menguntungkan pemerintah dan meringankan beban wisatawan. Wisatawan pasti lebih senang membayar perpanjangan visa di dalam negeri daripada harus pergi ke luar negeri membuang waktu dan mengeluarkan biaya tiket plus akomodasi.

Aspirasi agar BVKS dan VoA visa diperpanjang sudah lama dilontarkan dan sempat lenyap dari wacana publik karena tidak mendapat respons. Makanya, ketika tiba-tiba akhir Januari 2010 ini pemerintah mengeluarkan ketentuan bahwa VoA bisa diperpanjang, kebijakan ini mesti dianggap sebagai respons pemerintah atas aspirasi yang sudah lama dilontarkan pelaku pariwisata dan wisatawan.

Atas kebijakan baru ini, beberapa ekspatriat berkomentar, ”akhirnya mereka membuatnya legal”. Komentar ini bermakna dua. Pertama, sebagai rasa syukur, dan kedua menyiratkan bahwa sebelumnya ”perpanjangan visa dilakukan secara ilegal”.

Selain membolehkan VoA diperpanjang, ketentuan baru juga berisi penciutan dari dua jenis VoA (7 hari dan 30 hari) menjadi VoA tunggal (30 hari). VoA 30 hari yang harganya $25 ini bisa diperpanjang 30 hari dengan biaya sama tetapi dihitung dengan rupiah sebesar Rp 250.000.

Perpanjangan bisa dilakukan di kantor-kantor Imigrasi. Ada niat baik dari pemerintah untuk menyederhanakan urusan perpanjangan visa.

Dulu banyak pelaku pariwisata khawatir bahwa pengenaan VoA akan membuat animo turis ke Indonesia menurun, tetapi angka kunjungan yang ada menunjukkan jumlah wisatawan asing yang datang sejak pemberlakuan VoA terus meningkat. Untuk Bali, misalnya, sebelum VoA kunjungan wisatawan ke Bali di bawah 2 juta orang/tahun, sedangkan sejak VoA, misalnya untuk data 2009, kunjungan melebihi angka 2 juta. Peningkatan ini mengindikasikan faktor harga visa tidak memberikan pengaruh negatif atas angka kunjungan.

Harga $25 masih relatif rendah, sekitar seperempat dari harga visa turis ke Australia. Ongkos visa turis satu atau tiga bulan ke negeri kanguru adalah Rp 950 ribu alias $100. Asalkan Bali tetap mampu menjaga kebersihan, keamanan, keindahan, maka kecil kemungkinan turis batal berlibur ke mari hanya karena keharusan membayar biaya VoA $25. Efek VoA Baru Ketentuan VoA baru akan memberikan banyak efek positif terhadap idustri pariwisata dan pendapatan pemerintah. Pertama, pendapatan pemerintah jelas akan berlipat dengan adanya VoA tunggal dengan biaya $25.

Bercermin dari VoA sebelumnya yang berharga $10 dan $25, pendapatan VoA dari Bandara Ngurai Rai bisa mencapai Rp 250 miliar (tahun 2008). Angka kunjungan wisatawan ke Bali senantiasa meningkat, berarti meningkat pula pemasukan VoA ke kantong pemerintah pusat dari Bandara Ngurah Rai. Kedua, kebijakan baru VoA juga akan meningkatkan pendapatan pemerintah daerah dari pajak hotel dan restoran. Sistem VoA 30 hari akan mendorong turis berlibur lebih lama di Bali.

Dulu, dengan VoA 7 hari, misalnya, turis hanya bisa berlibur selama 7 hari, tidak bisa diperpanjang. Makin pendek waktu liburan, makin sedikit dana yang dibelanjakan turis. Kini, turis bisa tinggal lebih lama dan ini akan berdampak positif bagi pendapatan pemerintah daerah dari pajak hotel dan restoran.

Efek lain lapangan kerja di bidang pariwisata atau yang terkait dengannya akan bertumbuhan. Satu hal yang perlu diutarakan juga dalam konteks Bali adalah bahwa sudah saatnya tokoh masyarakat, eksekutif dan legislatif terutama anggota DPR pusat asal Bali cerdas dan gigih mencari terobosan agar Bali mendapat jatah VoA yang perolehannya ratusan miliar per tahun dari Bandara Ngurah Rai.

Alangkah idealnya kalau eksekutif dan legislatif asal Bali juga menargetkan untuk mengejar jatah VoA buat Bali sebagai program kerja utama lima tahun mereka sebagai pemerintah dan wakil rakyat. Keengganan atau kegagalan mereka memperjuangkan bagian VoA ke pemerintah pusat akan membuat rakyat Bali kecewa.

Penulis, dosen Fakultas Sastra Unud

Entry filed under: Hello Bali, Pariwisata. Tags: .

Revisi VOA untuk Tingkatkan Masa Tinggal Turis Tourism, Power And Culture: Anthropological Insights

2 Comments Add your own

  • 1. fera  |  April 14, 2010 at 7:56 am

    Dear Bali,

    Terima kasih atas info peraturan tentang VoA yang bisa diperpanjang. Mohon info untuk lebih jelasnya, peraturan pemerintah resmi nomor berapakah yang memuat tentang perpanjangan VoA ini ?

    Terima kasih.

    Reply
  • 2. merry franciska  |  August 10, 2012 at 3:29 pm

    Terima kasih informasinya..informasi ini sangat berguna sekali bagi saya..saya mau bertanya apakah biaya perpanjangan VoA sampe saat ini ada perubahan? dan Apakah ada ketentuan bahwa setiap daerah biaya perpanjangan VoA berbeda ?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 68,240 hits
February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Recent Posts


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: