Dalam Kenangan ‘Mi Ultimo Adios’ buat Djiwa Duarsa

 Oleh Widminarko, Tabloid Tokoh, 19 April 2009

Oh Tuhan, aku tidak membutuhkan pahala dari perbuatanku. Berikan pahala kepada mereka yang menginginkannya. Berikan kenikmatan  duniawi kepada mereka yang masih mencarinya. Yang kuinginkan hanya  satu saja, jangan sampai aku melupakan nama-Mu. Sehingga, pada saat ajalku tiba, yang teringat olehku hanyalah Engkau.

 (Djiwa Duarsa, Ulang Tahun ke-80 – 14 Oktober 2006).

Ajal itu telah tiba. Selasa (14/4) siang telah menutup mata untuk selamanya, Wayan Djiwa Duarsa, dalam usia 83 tahun. Menurut penuturan anak pertamanya, Dokter Mita Duarsa, tokoh pendidikan itu meninggal dengan tenang, dalam posisi tidur, di tempat tinggalnya, Banjar Tengah Kangin, Kerambitan. (more…)

Add comment April 25, 2009

Pan Balang Tamak dari Tembau: Sebuah Tanggapan

pustaka1Setelah membaca timbangan atas buku Bali dalam Kuasa Politik (2008) tulisan Jayakumara (Sarad, Maret 2009, hal 48-49), saya teringat kisah Pan Balang Tamak dalam cerita rakyat Bali. Tokoh ini digambarkan sebagai orang yang tak malu-malu menggunakan akalnya untuk mengolok-olok, menjebak, atau berkelit dari tanggung jawab sosial dengan mencari-cari kesalahan omongan orang lain. Di balik wacana yang diplintir dia berusaha bersembunyi.

 Suatu hari masyarakat akan melaksanakan gotong royong dan diumumkan bahwa acaranya dimulai kira-kira setelah tuwun siapè (ayam turun dari tidurnya di pagi hari). Pan Balang Tamak enak-enak saja muncul siang hari ketika gotong royong sudah berakhir. Ketika sanksi hendak dijatuhkan kepadanya, tanpa malu-malu dia membela diri dengan mengatakan ayamnya baru tuwun siang hari. Yang dijadikan dalih adalah ayam betinanya yang sedang mengerami. Ayam mengerami bisa tak turun berhari-hari, tak lazim dipakai penanda tibanya pagi. (more…)

Add comment April 24, 2009

Kultur “Tatap Muka” yang Terkubur dan Panjang Umur

I Nyoman Darma Putra

MEMBACA artikel tentang ”terbunuhnya” kultur ”tatap muka” di Indonesia karya Indra Tranggono (Kompas, Minggu, 29 Maret), saya jadi teringat budaya ”tatap muka” atau ”temu wicara” ala Orde Baru, tetapi tidak dibahas di dalamnya. Padahal, inilah yang terkubur, bukan kultur tatap muka milik publik.

Indra membatasi budaya ”tatap muka” sebagai tradisi bertemu, berdialog secara intens, dan menyelami batin bersama dalam ruang sosial yang kondusif. Contoh yang diberikan adalah menonton bersama kesenian tradisional seperti ketoprak dan wayang. Budaya ini dikatakan sudah mati sejak 1980-an karena maraknya televisi dan sikap pragmatisme masyarakat.

Batasan di atas melihat tatap muka sebagai aktivitas sosial budaya, padahal dia juga bisa dilihat sebagai kegiatan sosial politik. Kalau mau melihat tatap muka sebagai produk sosial politik, maka tahun 1980-an bukanlah tahun matinya budaya tatap muka, sebaliknya masa subur kultur tatap muka. Rezim Orde Baru menggunakan budaya tatap muka secara intens sebagai alat propaganda pembangunan. (more…)

Add comment April 24, 2009

Virgin Terbang ke Bali dari Sydney dan Melbourne

pacific-blue3001Keputusan grup maskapai penerbangan Australia, “Virgin Blue” menambah frekuensi penerbangannya ke Denpasar dari Sydney dan Melbourne mulai 1 Juni 2009 melegakan pengusaha pariwisata Bali menghadapi masa krisis ekonomi global, kata seorang pengamat pariwisata Bali.

“Benar-benar ’surprise’ (kejutan) mendengar keputusan Virgin Blue menambah frekuensi penerbangannya ke Bali dari dua kota utama Australia, Melbourne dan Sydney. Keputusan ini pasti melegakan pengusaha pariwisata Bali menghadapi masa krisis global ini,” kata I Nyoman Darma Putra kepada ANTARA di Brisbane, Senin. (more…)

Add comment April 1, 2009

Baliho ke Poster, Belajar Kampanye dari Australia

Cukup poster, atribut kampanyue di Brisbane (foto Gede Suparwata dan Dasar Bali)

Cukup poster, atribut kampanye di Brisbane (foto Gede Suparwata dan Dasar Bali)

Banyak rakyat apatis menghadapi Pemilu 2009. Selain karena caleg dan partai terlalu banyak, apatisme juga terjadi karena pemasangan atribut kampanye yang merusak pemandangan. Rakyat kecewa melihat baliho yang bikin pesona kota dan desa polusi. Kalau rakyat kecewa, golput kemungkinan meningkat. Kasihan ‘kan pemilu berbiaya besar tapi jumlah rakyat yang memilih rendah.

Proses kampanye mesti elok sehingga rakyat puas dan terpanggil untuk berpartisipasi pada hari-H. Keelokan bisa dimulai dari banyak hal, salah satu misalnya dengan menertibkan pemasangan baliho serta atribut kampanye lainnya. Bagaimana caranya? (more…)

Add comment March 28, 2009

Prosesi ‘Melasti’ Masyarakat Bali di Australia

melastiMasyarakat Bali yang tinggal di Brisbane, Australia menyambut Hari Raya Nyepi dengan melaksanakan prosesi ‘melasti’, Sabtu, 21 Maret 2009, di Paradise Point Beach, dekat Gold Coast, sekitar 70 km selatan kota Brisbane.  Melasti adalah ritual penyucian bhuana agung (alam semesta) dan buana alit (jiwa raga) yang dilaksanakan menjelang tibanya hari raya Nyepi atau Tahun Baru Saka yang kali ini merupakan tahun baru 1931, jatuh pada Jumat, 26 Maret 2009.

Acara melasti kali ini dirangkaikan dengan perayaan Galungan dan Kuningan yang jatuh 18 dan 28 Maret. Dalam prosesi melasti, tampak umbul-umbul, warna menjunjung banten, iringan penari rejang, barong, rangda, dan warga Bali serta sejumlah masyarakat setempat. Prosesi diiringi tetabuhan baleganjur sederhana. (more…)

1 comment March 21, 2009

Back to Bali, Bali High

mag1With the lead bombers executed, Australians are partying harder than ever in Kuta. But as well as hedonism, Stephen Fitzpatrick finds guilt, heroism, honour and tenderness twisted into the ties that bind Australia and its northern neighbour.
It must be the heat. I’m in jail, playing tennis under a blazing sun with a Bali bomber and several members of the Bali Nine heroin smuggling gang. Everyone is having a grand time. Jokes are batted back and forth about epic Indonesia-versus-Australia struggles. Life and death; where will you be tomorrow. All that. (more…)

2 comments March 7, 2009

Puisi untuk Korban Kebakaran Australia

Selasa, 10 Pebruari 2009
Queensland — Bencana kebakaran semak belukar terburuk dalam sejarah Australia yang menelan banyak korban jiwa dan kerugian harta benda menyentuh hati seorang akademisi Indonesia, I Nyoman Darma Putra, PhD. Ia mengungkapkan empati mendalamnya bagi para korban melalui puisi berjudul “Kinglake”.

Dalam puisinya itu, Darma Putra tidak hanya membawa imaji pembacanya kepada kepedihan korban yang kehilangan jiwa, harta dan ekologi tetapi juga mengingatkan kembali orang Indonesia pada kebajikan yang pernah diberikan Australia kepada para korban bencana tsunami di Aceh dan Nias enam tahun lalu.

(more…)

1 comment February 10, 2009

Apresiasi Semarak, Kritik Sastra Senyap

Bali Post, Minggu, 08 Februari 2009

 

Apresiasi sastra Bali lewat 'Kidung Interaktif' di Bali TV.

Apresiasi sastra Bali lewat 'Kidung Interaktif' di Bali TV.

KEHIDUPAN sastra nasional dan daerah di Bali terus berlanjut sejak dulu. Banyak karya diciptakan, dibaca, dipentaskan dalam bentuk seni pertunjukan seperti sendratari dan wayang, atau ditransformasi dalam bentuk seni rupa atau seni ukir di tembok-tembok. Ada juga novel disajikan lewat film atau sinetron.

Apresiasi sastra berlangsung di masyarakat ketika ada kegiatan ritual, atau di radio dan televisi lewat kidung interaktif, dagang gantal, atau gita shanti. Fakta-fakta ini mengindikasikan kreativitas dan apresiasi seni sastra di Bali berjalan semarak tetapi ada satu hal yang kurang yaitu absennya kegiatan kritik sastra. Isi dan pesan karya banyak disimak tetapi tidak pernah dikritik sebagai karya sastra. Tulisan kritik sastra jarang dibuat. (more…)

Add comment February 7, 2009

Balinese authors get Rancage Literary Awards

 

 

tusthi-eddy3tinggen-ole140804_bpm_22

Tusthi Eddy and I Nengah Tinggen

The Jakarta Post, Thu, 02/05/2009 4:56 PM  |  Bali

Veteran Balinese literary figures Nyoman Tusthi Eddy and Nengah Tinggen have been presented with the 2009 Rancage Literary Awards for their great contributions in preserving and developing literary works written in the Balinese language.

Initiated by veteran writer Ajip Rosidi, the Rancage awards was first given to writers, poets and novelists who produced literary pieces in the Sundanese language. From l997, the awards were extended to include individuals who produced literary works in their mother languages, including Javanese and Balinese. (more…)

Add comment February 6, 2009

Next Posts Previous Posts


Top Posts

Blog Stats

 

November 2009
M T W T F S S
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Recent Posts

Archives