Archive for May, 2008

Wanita Bali Tempo Dulu Menafsir Emansipasi

Cita-cita perjuangan R.A. Kartini sesungguhnya sudah masuk dalam wacana tentang kesetaraan gender di kalangan wanita intelektual Bali pada tahun 1930-an. Tak hanya pemikirannya, nama Kartini juga sering disebut dalam artikel-artikel yang ditulis wanita Bali pada masa itu. Hal ini berlanjut terus tahun 1950-an, bahkan lebih frekuentif dan intensif. Bedanya, pada era 1930-an, sketsa wajah Kartini tak pernah muncul dalam majalah.

INILAH cuplikan gambaran wanita Bali tempo dulu yang ditulis I Nyoman Darma Putra dalam buku “Wanita Bali Tempo Doeloe, Perspektif Masa Kini” ini. Di buku yang kini sudah memasuki cetakan kedua ini, Darma Putra bermaksud menyelamatkan tulisan-tulisan yang dibuat wanita Bali tempo dulu, agar pesan yang hendak mereka sampaikan dapat dijadikan bahan renungan. Hal ini terkait dengan ramainya muncul wacana kesetaraan gender dalam kehidupan sosial dewasa ini.

Lantas, kembali persoalan menarik tadi, mengapa pada era 1930-an sketsa wajah Kartini tak pernah muncul dalam majalah? “Hal ini terjadi mungkin karena teknik cetak majalah belum begitu maju seperti saat itu. Baru pada era 1950-an, sketsa wajah Kartini dicetak lewat majalah-majalah mengiringi pembahasan terhadap perjuangan dan pikirannya,” demikian tulis Darma Putra.

Selanjutnya disebutkan, majalah Bhakti dan Damai yang terbit kala itu lantas berulang-ulang memuat gambar wajah R.A. Kartini, misalnya sebagai cover majalah atau ilustrasi artikel di halaman dalam. Kedua majalah itu sering tampil dengan “edisi Kartini” untuk penerbitan bulan April, berdekatan dengan peringatan hari Kartini 21 April. Pada edisi khusus itu, dimuat banyak artikel tentang wanita, tentang Kartini dan tentang gerakan wanita internasional. Pembahasan tentang isu wanita menjadi lebih mendalam dan luas. (more…)

Advertisements

May 31, 2008 at 1:53 pm Leave a comment

Wanita Bali ”Tempo Doeloe” Itu Pemberani

Dalam suasana menyambut Hari Kartini atau hari lahirnya Raden Ajeng Kartini, 21 April besok, ada baiknya merenungkan kiprah wanita Bali sejak dulu hingga kini. Adakah wanita Bali lemah, pendiam, terbelakang dan nrimo? Atau, justru agresif dan pemberani dalam memperjuangkan aspirasi kaumnya untuk mencapai kesetaraan gender?

SEBAGIAN jawaban terhadap pertanyaan tersebut terungkap dalam buku baru tentang wanita Bali, berjudul Wanita Bali Tempo Doeloe, Perspektif Masa Kini karya I Nyoman Darma Putra, dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana. Dalam buku ini, Darma Putra tegas mengatakan bahwa wanita Bali “tempo doeloe” sangat vokal dan berani menyampaikan aspirasinya.<!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–> (more…)

May 31, 2008 at 1:46 pm Leave a comment

Tourism, Development and Terrorism in Bali

Important New Book Examines Bali’s Response to Terrorism and Economic Upheaval.
(5/29/2007) Two well-known academicians have explored the development of tourism and Bali’s economy dating from the Asian financial crisis of the late 1990s and the series of crises that have plagued Bali through the opening years of the new millennia.

“Tourism, Development and Terrorism in Bali” by London Metropolitan University’s Professor Michael Hitchcock and University of Queensland’s Dr. I Nyoman Darma Putra, examines government and community responses to the “troubles” that have befallen the world’s most popular holiday destination over the past decade.

With a particular emphasis on crisis management in the wake of the Bali bombings, Hitchcock and Darma Putra not only look at the impact of the bombings on tourism development in Bali, but also attempt to expore the root causes of the attack within the larger context of Indonesian politics and the global rise of political Islam.

Separately, the authors visit growing local resistance in Bali to globalization, including opposition to efforts to add Bali’s Mother Temple of Besakih to the United Nation’s list of World Heritage Sites. (more…)

May 31, 2008 at 1:31 pm Leave a comment

Joged – A Fun Dance

TEXT BY DARMA PUTRA & ANDREW CHARLES

PHOTOGRAPHY BY MADE WIDNYANA SUDIBYA

Source:http://www.hellobalimagazine.com/pages/edition/september-2005/regulars/behind-the-mask/joged–a-fun-dance.php

Balinese dance usually identifies sacred characters because most dances are performed in connection with religious rituals. However, there are also many secular types of dance that are done purely for entertainment and fun and there are others that are performed with the tourists in mind.

One of the most irreverent of Balinese dances is joged, which is also known as joged bumbung; referring to the instruments made of bamboo used to accompany it. In the Indonesian and Balinese languages, joged means to shake the hips. A joged dancer wears relatively unelaborate attire, comprising a kebaya and sarung. Her head, either with or without gelungan, is decorated with fresh and gold-plated flowers and she will be holding one or more fans while dancing. The fans are used to touch spectators in order to invite them to join the dance.

Unlike many other forms of dance, joged doesn’t have any particular pattern of movement or special steps. It can start and finish at any time but 10 minutes is about the average time for each dancer. Great ability to improvise is a must for a joged dancer and although every dancer can do joged, the audience always expects to see an attractive and charming girl. She has to throw a lot of smiles to make her appearance attractive to the spectators, who are generally predominantly male! (more…)

May 31, 2008 at 1:40 am 1 comment

Samar Gantang, Cita-cita Sebetulnya Jadi Bintang Film

Samar Gantang (dua dari kiri) dan Taufiq Ismail (bertopi)SEJAK menjadi guru di beberapa sekolah menengah pertama (SMP) swasta di Tabanan tahun 1973, Samar Gantang mengajar mata pelajaran seni lukis. Bahkan setelah meraih gelar sarjana sastra dari IKIP Saraswati Tabanan tahun 1997, dia yang sejak dulu dikenal sebagai seniman sastra tidak pernah menjadi guru bahasa dan sastra Indonesia. “Sudah ada banyak guru bahasa dan sastra, makanya saya tetap mengajar seni lukis,” kata ayah empat anak yang juga pernah menjadi pemain drama gong ini.

Cita-cita Samar Gantang sebetulnya menjadi bintang film. Tahun 1970-an dia sempat bersekolah di Jakarta, tetapi tiba-tiba disuruh pulang, katanya ibunya sakit keras. Setelah pulang, wanita yang melahirkannya ternyata sehat. Akhirnya dia menetap di Bali dan melupakan cita-cita menjadi bintang film. (more…)

May 31, 2008 at 12:02 am 1 comment

I Gusti Putu Bawa Samar Gantang:Pengajaran Bahasa Bali harus Dimulai dengan Huruf Bali

I Gusti Putu Bawa Samar Gantang adalah salah satu penerima penghargaan Rancage 2003. Pengarang ini tekun dan aktif menulis sastra Bali modern sejak 1970-an. Karya-karya cerpen dan sajaknya banyak menawarkan kemungkinan baru. Sampai detik ini, di samping jadi guru sastra Indonesia, ia aktif memimpin sanggar-sanggar seni dan sastra di Tabanan, memperkenalkan dan mendorong generasi muda untuk mengapresiasi, mencintai dan menulis dalam bahasa Bali modern. Berikut petikan komentar pengarang asal Tabanan ini.

ANDA dianugerahi hadiah Sastra Rancage tahun 2003 atas jasa membina sastra Bali modern. Bagaimana perasaan Anda?

Saya merasa masih ada yang lain di masyarakat yang rasanya lebih ulet dalam pembinaan bahasa dan sastra Bali. Ini kan kebetulan, karena kita hobi menulis. Selain itu kalau kita lihat yang lain, rasanya wajar saja. Saya ingin yang lain yang lebih dulu menulis perlu diperhatikan juga, seperti Tusthi Eddy dan Ngurah Parsua. (Ngurah Parsua menulis sastra Indonesia, sedangkan Rancage adalah hadiah untuk sastra daerah, red). (more…)

May 30, 2008 at 11:42 pm 4 comments


Blog Stats

  • 112,048 hits
May 2008
M T W T F S S
« Jan   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031