Archive for April, 2009

Speechless

The Jakarta Post , Jakarta | Sun, 07/01/2001 7:37 AM | Life

A short story by I Nyoman Darma Putra

Luh Puri yawned as she grated the coconut. Her eyes hurt, and as the afternoon went by she felt increasingly tired. She hadn’t slept well the night before. She never had much time for rest and last night’s sleep was even shorter than usual; if it wasn’t mosquitoes, it was the nightmares that kept her awake.

Yes, she was exhausted, but she still had half a container of sweet potato compote to sell. The street was deserted and the food stall empty of customers. Her neighbors said she didn’t have the knack for trade. They did, however, acknowledge her gift for dance when she appeared on stage. There, people said, is where she could really express herself, but every day found Luh Puri at the food stall trying to sell her wares. (more…)

Advertisements

April 30, 2009 at 6:22 am Leave a comment

Obituari:Djiwa Duarsa dan Kisah Formulir Fotokopi 1980

Bali kehilangan salah satu tokoh pendidikan yang penuh jasa melahirkan tenaga guru dalam rentang waktu lebih dari tiga dekade. Dialah Djiwa Duarsa yang dipanggil Yang Maha Kuasa, Selasa, 14 April 2009, dalam usia 83 tahun.

Lelaki asal Kerambitan, Tabanan, ini lahir 14 Oktober 1926. Dia pernah mengajar di Makassar dan kota lain di Indonesia, pernah mengelola majalah bahasa, aktif di partai, dan menjadi kepala sekolah guru yang terakhir bernama SPGN Denpasar selama 27 tahun (lihat tulisan Widminarko dalam situs ini).

Berikut adalah kesan seorang anak didiknya, I Nyoman Darma Putra, yang merasa mendapat banyak sentuhan semangat dan pekerti dari Pak Djiwa Duarsa selama dia menjadi murid di SPGN Denpasar, tahun 1977-1980. SPGN yang lokasinya di Jl Kamboja, dempet dengan asrama kepolisan Polda Bali, kini menjadi SMAN VII. (more…)

April 25, 2009 at 1:02 pm Leave a comment

Dalam Kenangan ‘Mi Ultimo Adios’ buat Djiwa Duarsa

 Oleh Widminarko, Tabloid Tokoh, 19 April 2009

Oh Tuhan, aku tidak membutuhkan pahala dari perbuatanku. Berikan pahala kepada mereka yang menginginkannya. Berikan kenikmatan  duniawi kepada mereka yang masih mencarinya. Yang kuinginkan hanya  satu saja, jangan sampai aku melupakan nama-Mu. Sehingga, pada saat ajalku tiba, yang teringat olehku hanyalah Engkau.

 (Djiwa Duarsa, Ulang Tahun ke-80 – 14 Oktober 2006).

Ajal itu telah tiba. Selasa (14/4) siang telah menutup mata untuk selamanya, Wayan Djiwa Duarsa, dalam usia 83 tahun. Menurut penuturan anak pertamanya, Dokter Mita Duarsa, tokoh pendidikan itu meninggal dengan tenang, dalam posisi tidur, di tempat tinggalnya, Banjar Tengah Kangin, Kerambitan. (more…)

April 25, 2009 at 12:25 pm Leave a comment

Pan Balang Tamak dari Tembau: Sebuah Tanggapan

pustaka1Setelah membaca timbangan atas buku Bali dalam Kuasa Politik (2008) tulisan Jayakumara (Sarad, Maret 2009, hal 48-49), saya teringat kisah Pan Balang Tamak dalam cerita rakyat Bali. Tokoh ini digambarkan sebagai orang yang tak malu-malu menggunakan akalnya untuk mengolok-olok, menjebak, atau berkelit dari tanggung jawab sosial dengan mencari-cari kesalahan omongan orang lain. Di balik wacana yang diplintir dia berusaha bersembunyi.

 Suatu hari masyarakat akan melaksanakan gotong royong dan diumumkan bahwa acaranya dimulai kira-kira setelah tuwun siapè (ayam turun dari tidurnya di pagi hari). Pan Balang Tamak enak-enak saja muncul siang hari ketika gotong royong sudah berakhir. Ketika sanksi hendak dijatuhkan kepadanya, tanpa malu-malu dia membela diri dengan mengatakan ayamnya baru tuwun siang hari. Yang dijadikan dalih adalah ayam betinanya yang sedang mengerami. Ayam mengerami bisa tak turun berhari-hari, tak lazim dipakai penanda tibanya pagi. (more…)

April 24, 2009 at 2:44 pm 1 comment

Kultur “Tatap Muka” yang Terkubur dan Panjang Umur

I Nyoman Darma Putra

MEMBACA artikel tentang ”terbunuhnya” kultur ”tatap muka” di Indonesia karya Indra Tranggono (Kompas, Minggu, 29 Maret), saya jadi teringat budaya ”tatap muka” atau ”temu wicara” ala Orde Baru, tetapi tidak dibahas di dalamnya. Padahal, inilah yang terkubur, bukan kultur tatap muka milik publik.

Indra membatasi budaya ”tatap muka” sebagai tradisi bertemu, berdialog secara intens, dan menyelami batin bersama dalam ruang sosial yang kondusif. Contoh yang diberikan adalah menonton bersama kesenian tradisional seperti ketoprak dan wayang. Budaya ini dikatakan sudah mati sejak 1980-an karena maraknya televisi dan sikap pragmatisme masyarakat.

Batasan di atas melihat tatap muka sebagai aktivitas sosial budaya, padahal dia juga bisa dilihat sebagai kegiatan sosial politik. Kalau mau melihat tatap muka sebagai produk sosial politik, maka tahun 1980-an bukanlah tahun matinya budaya tatap muka, sebaliknya masa subur kultur tatap muka. Rezim Orde Baru menggunakan budaya tatap muka secara intens sebagai alat propaganda pembangunan. (more…)

April 24, 2009 at 2:37 pm Leave a comment

Virgin Terbang ke Bali dari Sydney dan Melbourne

pacific-blue3001Keputusan grup maskapai penerbangan Australia, “Virgin Blue” menambah frekuensi penerbangannya ke Denpasar dari Sydney dan Melbourne mulai 1 Juni 2009 melegakan pengusaha pariwisata Bali menghadapi masa krisis ekonomi global, kata seorang pengamat pariwisata Bali.

“Benar-benar ‘surprise’ (kejutan) mendengar keputusan Virgin Blue menambah frekuensi penerbangannya ke Bali dari dua kota utama Australia, Melbourne dan Sydney. Keputusan ini pasti melegakan pengusaha pariwisata Bali menghadapi masa krisis global ini,” kata I Nyoman Darma Putra kepada ANTARA di Brisbane, Senin. (more…)

April 1, 2009 at 8:48 am Leave a comment


Blog Stats

  • 112,090 hits
April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930