Archive for February, 2011

Perkembangan Sastra Bali Modern 2010

Buku sastra Bali modern yang terbit sepanjang 2010, berupa antologi cerpen, puisi, dan novelet. Foto: Darma Putra.

Perkembangan sastra Bali modern sepanjang tahun 2010 ditandai dengan beberapa hal yang menarik. Pertama, secara kuantitatif, jumlah buku yang terbit tahun 2010 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun 2009 terbit 9 buku, sedangkan tahun 2010 terbit 13 judul.

Kedua, munculnya novel-novel sejarah dalam sastra Bali modern, fenomena yang tampaknya mengikuti salah satu kecenderungan mutakhir dalam sastra Indonesia. Dari 13 judul buku sastra yang terbit 2010, terdapat enam novel sejarah, semuanya ditulis oleh Nyoman Manda, sastrawan kelahiran 1938 yang tekun dan setia mencipta walau usianya kini sudah memasuki 73 tahun.

Ketiga, untuk pertama kalinya terbit buku sastra Bali modern yang menjadikan tragedi sosial-politik 1965/66 sebagai subtema atau tema utama. Sebelumnya, huru-hara politik pertengahan 1960-an yang mengakibatkan pembunuhan massal itu hanya muncul sebagai informasi sepintas kilas, bukan sub-tema apalagi sebagai tema pokok. (more…)

Advertisements

February 4, 2011 at 9:49 am Leave a comment

Hadiah Sastera Rancage untuk Sastra Sunda, Jawa, dan Bali 2011

Keputusan: HADIAH SASTERA “RANCAGÉ” 2011

Dengan rido Allah SWT, alhamdulillah Hadiah Sastera ”Rancagé” tahun ini akan diserahkan untuk ke-23 kalinya buat sastera Sunda, yang ke-18 kalinya buat sastera Jawa, dan ke-15 kalinya untuk sastera Bali. Untuk sastera Lampung tahun ini tidak ada hadiah, karena tahun 2010 tidak ada buku yang terbit dalam bahasa Lampung.

Penerbitan buku, apalagi dalam bahasa ibu, tidak bisa berlangsung terus kalau tidak ada masyarakat yang membacanya. Penerbit buku dalam bahasa ibu sampai sekarang, kecuali dalam bahasa Sunda, terutama berupa perwujudan rasa cinta para anggota masyarakat yang mempunyai bahasa tersebut, umumnya atas usaha yayasan-yayasan atau perseorangan yang kebetulan punya uang.

Tapi biasanya buku-buku yang diterbitkan itu tidak sampai kepada masyarakat, karena yang menerbitkannya merasa puas setelah menyaksikan bukunya terbit, tidak memikirkan bagaimana mendistribusikannya supaya sampai kepada tangan pembaca.

Belakangan sasterawan Jawa yang sudah tiga kali mendapat hadiah Sastera “Rancagé”, Suparto Brata, memakai uang hadiah yang diterimanya untuk membiayai penerbitan bukunya, tapi pelaksanaannya diserahkan kepada penerbit komérsial. Cara demikian mémang salah satu jalan yang bisa ditempuh, tapi sebenarnya kehidupan penerbitan buku bahasa ibu itu harus digarap oléh penerbit komérsial secara profésional. Yang menjadi masalah, penerbit komérsial atau orang yang mempunyai modal, tidak percaya bahwa penerbitan buku dalam bahasa ibu bisa menguntungkan – paling tidak bisa “jalan”. Kebanyakan penerbit komérsial baru menerbitkan buku dalam bahasa ibu kalau ada “proyék” besar.

Tapi kasus penerbitan buku bahasa Sunda yang dilaksanakan oléh penerbit komérsial Kiblat Buku Utama secara profésional membuktikan bahwa menerbitkan buku bahasa ibu merupakan lapangan usaha yang rasional meskipun harus dihadapi dengan sabar. Yang penting harus menerbitkan buku dahulu sebanyak-banyaknya, sebab adanya buku itulah yang akan membangkitkan minat untuk membaca buku dalam bahasa ibu. Bagaimana masyarakat akan gemar membaca buku dalam bahasa ibu kalau bukunya tidak tersedia? (more…)

February 1, 2011 at 9:03 am Leave a comment


Blog Stats

  • 109,983 hits
February 2011
M T W T F S S
« Dec   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28