Buku Kontribusi Sastrawan Bali pada Perubahan Sosial

April 21, 2011 at 11:34 pm Leave a comment

Selasa, 19 April 2011 | 16:07 WIB
TEMPO Interaktif, Denpasar – Sebuah buku yang mendokumentasikan dan mengkaji sumbangan para sastrawan Bali pada perubahan sosial dan pencarian identitas budaya diluncurkan di Denpasar. Buku berjudul A Literary Mirror: Balinese Reflections on Modernity and Identity in the Twentieth Century diangkat dari disertasi dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana, Bali, Nyoman Darma Putra.

Buku itu memuat ulasan mengenai karya sastra di Bali sejak masa kolonial hingga era kontemporer. “Penulis dari Bali turut mewarnai sekaligus memperkaya khazanah sastra Indonesia,” kata Darma Putra, Selasa (19/4) ini.

Beberapa kalangan berpandangan bahwa ‘kebangkitan’ ini baru dimulai pada dekade terakhir. Tetapi menurut Darma Putra, sejak 1920-an pengarang-pengarang Bali telah intens mempublikasikan karya mereka di media-media lokal seperti Surya Kanta, Bali Adnjana, Djatajoe, Bhakti, Damai, dan Suara Indonesia, yang kini menjadi Bali Post mulai 1970-an.

Darma Putra menambahkan, selain Panji Tisna dan Putu Wijaya, Bali juga memiliki banyak penulis yang menghasilkan karya penting dan menarik jika dilihat dalam wacana publik dan perubahan sosial politik di Bali dan Indonesia sejak zaman kolonial hingga belakangan ini.

Terkait kemunculan buku tersebut, budayawan dan penerjemah sastra dari Universitas Michigan, Amerika Serikat, Tom Hunter, menyatakan bahwa kritikus punya peran penting dalam perkembangan sastra ke arah kemajuan terutama pengarang Bali. “Kritikus sastra seharusnya menelaah karya secara lebih mendalam. Tidak hanya menganalisa dalam wacana tertentu misalnya sosial, politik, atau bahkan ekonomi,” ujarnya.

Apapun yang terjadi, penulis tidak dapat mengingkari takdirnya sebagai suara zaman. “Tiap karya punya masanya sendiri. Yang terpenting bagaimana sekian karya itu memberi kontribusi berarti bagi kemajuan masyarakat, mengkritisi kekinian sembari tetap berpegang teguh pada upaya mencapai kemajuan bersama melalui tradisi tulis,” kata Hunter, yang kini mengajar Bahasa Sanskerta dan Sintaksis Jawa Kuna pada Fakultas Sastra Universitas Udayana itu.

ROFIQI HASAN
http://www.tempointeraktif.com/hg/sastra_dan_budaya/2011/04/19/brk,20110419-328676,id.html

Entry filed under: Buku, Hello Bali. Tags: , , .

Sastrawan Bali Getol Menulis Cerita Konflik Kasta Tumpek Landep: The Auspicious Ceremony for Sharpening Metallic Objects, Hearts and Minds.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 96,087 hits
April 2011
M T W T F S S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

%d bloggers like this: