Archive for February, 2012

Langkah-langkah Denpasar Membangun ‘Kota Budaya’ dan ‘Budaya Kota’

dnfest catur muka

Pengantar

Sudah sejak lama, paling tidak sejak zaman kolonial, Denpasar hendak dibangun menjadi ‘kota budaya’ tetapi hal itu tampaknya tidak dibarengi dengan usaha-usaha strategis membangun ‘budaya kota’. Apakah yang dimaksud dengan ‘kota budaya’ dan ‘budaya kota’?

‘Kota budaya’ adalah kota yang dengan kreatif melestarikan warisan budaya, baik yang benda (tangible) maupun yang tak-benda (intangible), dan dengan bangga menjadikan kekayaan dan pesona warisan budaya itu sebagai lambang identitas. Yang dimaksud dengan ‘budaya kota’ adalah keseluruhan perilaku warga kota dalam interaksi sosial yang mencerminkan kearifan lokal untuk mewujudkan keharmonisan hidup bersama. Bali kaya akan nilai-nilai kearifan lokal seperti tat twam asi dan tri kaya parisudha (berfikir, berkata, berbuat baik) yang bisa diadopsi dan diadaptasi untuk membangun ‘budaya kota’ sesuai dengan situasi dan kondisi.

selengkapnya: Denpasar Budaya Kota

Advertisements

February 25, 2012 at 12:53 am Leave a comment

Balisiana: Menyambut Para Baliologist

Bali Tribune, Selasa, 7 Februari 2012, p. 1
Bali pulau kecil. Hampir tak punya identitas geografis karena hanya tergambar sebagai noktah dalam peta dunia. Meski kecil, pulau ini banyak dikunjungi turis dan peneliti mancanegara khususnya Baliologist (peneliti tentang Bali)
Jauh sebelum turis datang ke Bali, Pulau Dewata sudah dikunjungi para peneliti, seperti antropolog, musikologis, fotografer, pembuat film, ahli bahasa dan sastra, serta sejarawan. Mereka meneliti adat, sosial, dan budaya Bali, lalu mempublikasikan karyanya sehingga Bali kian dikenal warga dunia.
Tahun 1937, misalnya, seniman dan antropolog Mexico, Miguel Covarrubias menerbitkan buku Island of Bali, yang menjadi rujukan banyak mahasiswa dan turis yang ingin mengenal Bali.
Popularitas Bali dari publikasi itulah yang kemudian mendorong turis mancanegara terus berdatangan ke Bali. Kepada para peneliti, Bali berutang budi. (more…)

February 11, 2012 at 4:17 am Leave a comment

Keputusan Hadiah Sastera “Rancagé” 2012

 

Alhamdulillah Hadiah Sastera “Rancagé” untuk sastera dalam bahasa Sunda tahun ini atas rido Allah SWT dan dengan bantuan dari berbagai pihak yang menaruh perhatian terhadap usaha mengembangkan bahasa ibu insya Allah akan diberikan untuk ke-24 kalinya. Artinya sudah 24 tahun Hadiah Sastera “Rancagé” diberikan setiap tahun tanpa sekali pun lowong. Di samping Hadiah Sastera “Rancagé” untuk sastera Sunda, sejak 1994 diberikan hadiah “Rancagé” untuk sastera Jawa, sejak 1997 juga untuk sastera Bali dan sejak tahun 2008 diberikan juga buat sastera dalam bahasa Lampung. Kecuali untuk bahasa Lampung yang kadang-kadang tidak diberikan karena tidak ada buku yang terbit pada tahun yang bersangkutan, Hadiah Sastera “Rancagé“ buat bahasa Sunda, bahasa Jawa dan bahasa Bali selama ini secara tetap diberikan setiap tahun.

Tahun ini, Hadiah untuk bahasa Lampung tidak diberikan, walaupun ada dua buku yang terbit dalam bahasa Lampung ialah Radin Intan II karangan Rudi Suhaimi Kalianda dan Warahan Radin Jambat suntingan Iwan Nurdaya Djafar, karena Saudara Irfan Anshory yang menyeponsori Hadiah untuk bahasa Lampung dan yang selama ini bertindak sebagai jurinya, mendadak meninggalkan kita pada tahun yang lalu, dan kami tidak sempat mencari juri yang lain. (Kebetulan kedua buku yang terbit tahun 2011 itu bukan karya sastera baru, sehingga tidak dinilai untuk mendapat Hadiah Rancagé”). (more…)

February 11, 2012 at 3:59 am Leave a comment

Sastra Bali Modern Sepanjang 2011, Sayup-sayup Stabil

Beberapa buku sastra Bali modern yang terbit tahun 2011.

Oleh I Nyoman Darma Putra, dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana

Sepanjang tahun 2011, buku sastra Bali modern yang terbit sebanyak sembilan judul. Angka ini menurun dari tahun 2010 yang mencapai 13 judul. Walaupun secara kuantitas terjadi penurunan, kehidupan sastra Bali modern bisa dikatakan tetap stabil. Hanya saja agak sayup-sayup karena karya-karya yang terbit terasa sunyi dari apresiasi atau respon pembaca.

Dari sembilan buku itu, delapan judul karya baru dan satu judul merupakan cetak ulang sebuah novel. Novel yang dicetak ulang berjudul Tresnanè Lebur Ajur Satondèn Kembang (Cinta Layu Sebelum Berkembang) karya Djelantik Santha, seorang pengarang terkemuka Bali. Novel Tresnanè Lebur Ajur Satondèn Kembang ini pertama kali terbit sebagai cerita bersambung di Bali Post bulan Juli 1981, kemudian terbit sebagai buku tahun 1984. Cetak ulang kali ini dapat mengisi kekosongan buku di pasar. (more…)

February 4, 2012 at 11:20 pm Leave a comment


Blog Stats

  • 109,983 hits
February 2012
M T W T F S S
« May   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829