Archive for March, 2013

Sastra Indonesia di Bali sebelum dan semasa Umbu Landu Paranggi

Pengantar redaksi Umbu pertama di Bali Post 8 Juli 1979 (file Darma Putra)

Pengantar redaksi Umbu pertama di Bali Post 8 Juli 1979 (file Darma Putra)

Oleh I Nyoman Darma Putra

Dalam eseinya ‘Puisi dari Bali’ di rubrik ‘Bentara’ Kompas, 1 September 2000, Sutardji Calzoum Bachri, menegaskan bahwa Bali telah memberikan kontribusi penting tidak saja pada dunia puisi tetapi juga prosa dan aktivitas sastra Indonesia lainnya. Pengakuan serupa juga bisa dilihat dalam bentuk yang lain yakni undangan buat penyair Bali untuk menghadiri forum sastra nasional dan internasional serta publikasi bersama.

Kontribusi Bali dalam sastra Indonesia tidak bisa dipisahkan dari peran penyair Umbu Landu Paranggi yang mengawal sastra di Bali lewat posisinya sebagai redaktur sastra Bali Post Minggu sejak 1979. Sebelum pindah ke Bali, Umbu menggerakkan apresiasi sastra di Yogja, ketika menjadi redaktur mingguan Pelopor di kota ini. Di sini pula dia mendapat julukan ‘Presiden Malioboro’ atas kegemarannya menggelar apresiasi di pedestrian Jalan Malioboro.

Sebagai redaktur, Umbu aktif turun ke sekolah, ranggar sastra dan kampus-kampus untuk menggelar apresiasi sastra. Lewat ‘rubrik kontak’ di Bali Post, dia setia melakukan sensus atas penulis sebagai cara untuk memacu mereka berkarya.

Umbu gemar dunia sepakbola, maka sistem seleksi puisi atau proses penggodokan penyair yang diterapkan menggunakan istilah ‘kompetisi’ berjenjang dari pemula (Pos Remaja) ke dewasa (Pos Budaya). Agar penulis tahu prosesnya, tak ajrang Umbu menjelaskannya lewat rubrik kontak dan kegiatan apresiasi.

Dalam rentang waktu 30 tahun, kegiatan apresiasi sastra di Bali memang mengalami masa pasang surut, tetapi semangat menulis puisi yang ditularkan Umbu tetap kuat. Budayawan Emha Ainun Nadjib yang merasa berguru pada Umbu ketika Umbu di Yogja dengan bangga menyebutnya ‘ustadz Umbu’. Istilah yang sama juga kerap dipakai penyair Bali untuk perasaan yang sama yakni menghormati Umbu sebagai guru, sebagai institusi ‘akademi puisi’.

Tulisan ini adalah apresiasi atas pengabdian Umbu dalam membina sastra Indonesia dari Bali. Agar terhindar dari pengkultusan, tinjauan atas jasa Umbu dilihat dalam konteks yang lebih luas, yakni sejarah sastra Indonesia di Bali.

Selengkapnya: sastra Indonesia di Bali sebelum dan semasa umbu

March 14, 2013 at 1:26 pm 1 comment

Lirik Lagu Rakadhanu: Dari Nasionalisme, Romantika Cinta, sampai Denpasar Berseri

IMG_2515Pengantar

I Gusti Putu Rakadhanu adalah pencipta lagu yang sangat produktif. Dalam buku ini terkumpul hampir 70 karyanya. Lagu-lagu ini diciptakan dari tahun 1990-an hingga 2000-an. Sebagian besar karya dia sendiri, hanya satu dua diciptakan bersama komposer lain seperti dengan Ngurah Ardjana (alm) dan AAN Gede Kusuma Wardhana. Bekerja sama dalam mencipta lagu merupakan hal yang biasa. Boleh dikatakan bahwa dekade 1990-an dan 2000-an merupakan masa produktif bagi Rakadhanu berkarya.

Uraian berikut akan menyimak pesan-pesan yang terkandung dalam lagu-lagu Rakadhanu, komposer kelahiran Gemeh, Denpasar, 30 Juli 1943. Penyimakan dilakukan dengan mengombinasikan kajian struktur isi lagu, ekspresi yang digunakan, dan konteks sosial saat lagu diciptakan dan konteks sosialnya kemudian. Beberapa tema dominan diangkat untuk melihat perhatian atau sensitivitas Rakadhanu dalam mencipta lagu dan sejauh mana arti ciptaannya dalam memahami citra dan perubahan yang terjadi di Bali pada umumnya dan Denpasar pada khususnya. Untuk meguatkan analisis, kutipan relevan dari lagu-lagu disertakan. Namun, berhubung terbatasnya ruang untuk analisis, tidak setiap lagu dianalisis secara rinci.

Selengkapnya: IGP Rakadhanu komposer lagu produktif

Pentas Orkes di TVRI Denpasar membawakan lagu-lagu IGP Ranadhanu.

Pentas Orkes Puspa Taruna tahun 1978 di TVRI Denpasar membawakan lagu-lagu IGP Rakadhanu.

March 9, 2013 at 3:51 am 14 comments


Blog Stats

  • 107,299 hits
March 2013
M T W T F S S
« Feb   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031