Sastra Indonesia di Bali sebelum dan semasa Umbu Landu Paranggi

March 14, 2013 at 1:26 pm 1 comment

Pengantar redaksi Umbu pertama di Bali Post 8 Juli 1979 (file Darma Putra)

Pengantar redaksi Umbu pertama di Bali Post 8 Juli 1979 (file Darma Putra)

Oleh I Nyoman Darma Putra

Dalam eseinya ‘Puisi dari Bali’ di rubrik ‘Bentara’ Kompas, 1 September 2000, Sutardji Calzoum Bachri, menegaskan bahwa Bali telah memberikan kontribusi penting tidak saja pada dunia puisi tetapi juga prosa dan aktivitas sastra Indonesia lainnya. Pengakuan serupa juga bisa dilihat dalam bentuk yang lain yakni undangan buat penyair Bali untuk menghadiri forum sastra nasional dan internasional serta publikasi bersama.

Kontribusi Bali dalam sastra Indonesia tidak bisa dipisahkan dari peran penyair Umbu Landu Paranggi yang mengawal sastra di Bali lewat posisinya sebagai redaktur sastra Bali Post Minggu sejak 1979. Sebelum pindah ke Bali, Umbu menggerakkan apresiasi sastra di Yogja, ketika menjadi redaktur mingguan Pelopor di kota ini. Di sini pula dia mendapat julukan ‘Presiden Malioboro’ atas kegemarannya menggelar apresiasi di pedestrian Jalan Malioboro.

Sebagai redaktur, Umbu aktif turun ke sekolah, ranggar sastra dan kampus-kampus untuk menggelar apresiasi sastra. Lewat ‘rubrik kontak’ di Bali Post, dia setia melakukan sensus atas penulis sebagai cara untuk memacu mereka berkarya.

Umbu gemar dunia sepakbola, maka sistem seleksi puisi atau proses penggodokan penyair yang diterapkan menggunakan istilah ‘kompetisi’ berjenjang dari pemula (Pos Remaja) ke dewasa (Pos Budaya). Agar penulis tahu prosesnya, tak ajrang Umbu menjelaskannya lewat rubrik kontak dan kegiatan apresiasi.

Dalam rentang waktu 30 tahun, kegiatan apresiasi sastra di Bali memang mengalami masa pasang surut, tetapi semangat menulis puisi yang ditularkan Umbu tetap kuat. Budayawan Emha Ainun Nadjib yang merasa berguru pada Umbu ketika Umbu di Yogja dengan bangga menyebutnya ‘ustadz Umbu’. Istilah yang sama juga kerap dipakai penyair Bali untuk perasaan yang sama yakni menghormati Umbu sebagai guru, sebagai institusi ‘akademi puisi’.

Tulisan ini adalah apresiasi atas pengabdian Umbu dalam membina sastra Indonesia dari Bali. Agar terhindar dari pengkultusan, tinjauan atas jasa Umbu dilihat dalam konteks yang lebih luas, yakni sejarah sastra Indonesia di Bali.

Selengkapnya: sastra Indonesia di Bali sebelum dan semasa umbu

Entry filed under: Hello Bali. Tags: .

Lirik Lagu Rakadhanu: Dari Nasionalisme, Romantika Cinta, sampai Denpasar Berseri Peran Perempuan Bali Perkuat Destinasi Wisata Bali dengan Kuliner Khas

1 Comment Add your own

  • 1. umbu harison  |  August 23, 2013 at 5:19 am

    sejak pertama mendengar nama penyair Umbu, saya ingin bertemu dengan beliau..tapi belum tercapai…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 95,964 hits
March 2013
M T W T F S S
« Feb   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d bloggers like this: