Archive for April, 2016

Setiti Bali, Awal Organisasi Modern di Bali dari Era Kolonial

Foto repro Majalah Djatajoe, No. 7, 25 Februari 1938.

Foto repro Majalah Djatajoe, No. 7, 25 Februari 1938.

Di Bali ada banyak komunitas, ikatan, atau organisasi tradisional.  Antropolog Clifford Geertz terpesona melihat orang Bali terpaut dalam begitu banyak kelompok atau ikatan atau organisasi tradisional seperti ikatan dadia (warga), banjar, dan seka. Ikatan atau seka ini kadang solid kadang juga renggang dengan struktur longgar.

Seka dibentuk sesuai dengan kepentingan anggotanya, diberikan nama sesuai aktivitasnya. Contohnya banyak seperti sekaa manyi (kelompok orang yang anggotanya menerima pekerjaan panen), subak (oranisasi petani berbasis irigasi), seka tuak (komunitas hobi minum tuak), seka semal (penangkap tupai), seka gong (kelompok gamelan), dan banyak lagi. (more…)

Advertisements

April 23, 2016 at 7:57 am Leave a comment

Lila Bhuwana: Kenangan Pasar Senggol dan Bioskop di Pojok Stadion Ngurah Rai

GOR Ngurah Rai, dulunya lokasi pasar senggol dan gedung bioskop Lila Bhuwana.

GOR Ngurah Rai, dulunya lokasi pasar senggol dan gedung bioskop Lila Bhuwana.

Gedung olah raga mewah di sudut barat-laut Stadion Ngurah Rai Denpasar dulunya merupakan pasar senggol yang ramai dan gedung bioskop yang merakyat. Pasar senggol tersebut terkenal dengan nama Lila Bhuwana, sedangkan gedung bioskopnya disebut Lila Bhuwana Theatre.

Lila Bhuwana [kadang ditulis Buana] adalah nama yang indah ucapan dan maknanya. Dalam bahasa Bali, ‘lila’ artinya ‘senang’, ‘bhuwana’ artinya ‘dunia atau tempat’. Sesuai dengan namanya, Lila Bhuwana merupakan tempat untuk bersenang-senang atau menghibur diri. (more…)

April 17, 2016 at 4:33 pm Leave a comment

Atribut dari Awal Denpasar Kota Konferensi

Kongres Pemuda Bali di Denpasar. Foto Repro Majalah Merdeka, diambil dari tulisan Suryadi di Bali Post Minggu, 20 Maret 2016.

Kongres Pemuda seluruh Bali di Denpasar. Foto Repro Majalah Merdeka, diambil dari tulisan Suryadi di Bali Post Minggu, 20 Maret 2016.

Denpasar layak mendapat julukan Kota Konferensi. Alasannya, sejak masa kolonial tepatnya tahun 1930-an, Denpasar sudah sering dan terus menerus dipilih sebagai tempat seminar, rapat, sidang, munas, kongres, dan sejenisnya, baik untuk tingkat nasional maupun internasional, baik yang diselenggarakan oleh partai politik maupun organisasi profesi.

Menjadikan Kota Denpasar (termasuk Sanur) sebagai tempat konferengsi, kongres, seminar terus berlanjut sampai sekarang. Pejabat tinggi seperti Presiden kerap hadir membuka konferensi atau musyawarah, seperti yang terakhir adalah Musyawarah Nasional XIII Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) pada 19-22 Januari 2014, yang dibuka Presiden SBY. (more…)

April 3, 2016 at 6:46 am 1 comment


Blog Stats

  • 109,983 hits
April 2016
M T W T F S S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930