Menonton Film di Malam ‘Old and New’, Gaya Sambut Tahun Baru di Denpasar Tempo Doeloe

December 31, 2016 at 12:15 pm Leave a comment

Iklan film Old and New tahun 1978 di Denpasar. Sumber: Bali Post, Jumat, 29 Desember 1978.

Iklan film Old and New tahun 1978 di Denpasar. Sumber: Bali Post, Jumat, 29 Desember 1978.

Menonton film di malam ‘Old and New’ adalah salah satu fesyen bagi remaja kota Denpasar tahun 1970-an dan 1980-an. Sumber hiburan waktu itu belum sebanyak sekarang, maka menonton film di gedung bioskop adalah pilihan favorit untuk merayakan pergantian tahun.

Pada malam ‘Old and New’, gedung-gedung bioskop di Denpasar menggelar show istimewa. Dikatakan istimewa karena pada malam pergantian tahun itu, film diputar pada tengah malam, pk. 12.00, mewarnai detik-detik pergantian tahun. Beda dengan hari-hari biasa,

Pada hari biasa, bioskop di Denpasar biasanya memutar film dua atau tiga kali show, mulai pk. 17.00-19.00, dan 19.00-21.00. Kalau untuk tiga kali show, diputar satu lagi pk. 21.00-23.00. Setelah itu tutup. Kalau empat kali show, biasanya mulai pk. 15.00. Hari Minggu sering ada show siang hari.

Pada malam pergantian tahun, diadakan pemutaran khusus, mulai pk. 12.00 sampai pk. 04.00 pagi hari. Film yang diputar pada malam melepas tahun lama biasanya diiklankan dengan intensif di koran lokal atau radio. Agar banyak yang menonton.

Yang diputar tentu film istimewa, termasuk film Barat, seperti tampak pada iklan malam Old and New tahun 1978, yaitu film Hong Kong The Prodigal Boxer dan  film Italia Hit Squad ( https://en.wikipedia.org/wiki/Hit_Squad_(film).

Saat itu di Denpasar ada bioskop Denpasar Theatre, Indra Theatre, Wisata Theatre, Nirwana Theatre, Wisnu, dan Jaya. Beberapa bioskop berkelas juga ada di Tabanan dan Singaraja. Banyak anak muda Denpasar yang baru mengenal sepeda motor dengan lempang meluncur film sampai ke Tabanan.

Warga Denpasar yang mengajak pacar menonton ke Tabanan akan merasa tidak malu, karena tidak ada yang mengenali mereka di kota lain. Begitu juga sebaliknya, remaja Tabanan menonton di Denpasar. Boncengan dalam perjalanan sendiri adalah bonus waktu pacaran, romantis dalam bermotor bersama.

Berdekatan

Di Denpasar, lokasi bioskop berdekatan sehingga tak jarang film baik diputar di dua bioskop pada jam berhampiran, mereka tinggal mengoper-oper roll film dari satu tempat ke tempat lain, dengan selisih waktu putar 10-15 menit.

Bioskop Indra di ujugn utara Thamrin dengan Wisata Theatre di Jln Thamrin hanya berseberangan jalan. Denpasar Theatre di Jalan Diponegoro dan Nirwana Theatre Jln Hasanudin (kini Gedung Bank BCA) juga dekat. Tidak ada jalanan macet yang dapat menghambat oper-operan roll film, apalagi itu jalan satu arah.

Siapa menonton?

Biasanya yang banyak menonton film di malam ‘IOld adn New’ adalah anak muda Depasar yang tergolong kelas memengah ke atas. Menonton film di bioskop tahun 1970-an adalah sebuah kemewahan. Seseorang harus memiliki cukup uang untuk membeli tiket. Sayangnya, harga tiket tidak dicantumkan di iklan film di koran.

Tidak banyak sumber hiburan di Denpasar saat itu. Tidak mengherankan kemudian kalau hiburan menonton film merupakan salah satu pilihan utama. Menonton film merupakan fesyen saat itu, lambang kemajuan, modernitas, dan status. Menonton film tidak saja sebagai hiburan, tetapi juga identitas diri modern.

Selain di bioskop, film nyaris tak bisa disaksikan di mana pun. Di beberapa tempat atau desa-desa kadang ada layar tancap, pemuteran film untuk gali dana bagi komunitas/banjar.

Beda dengan kini, film bisa ditonton di komputer, TV, dan bahkan HP.

Nonton layar lebar di gedung bioskop sempat matisuri, belakangan hidup lagi dengan film-film berkualitas. Kalau tidak berkualitas, film tidak laku.

Penonton tidak khawatir toh mereka bisa menonton film di mana saja, tak bergantung pada bioskop seperti tahun 1970-an.

Makanya, merayakan pergantian tahun dengan menonton film Old and New sudah bukan merupakan gaya hidup lagi, mesti sesekali ada juga bioskop yang menawarkan hiburan gaya tempo doeloe itu.

 

Advertisements

Entry filed under: Hello Bali.

Tak Pernah Tak Ramai: Warung Nasi Campur Men Weti di Pantai Sanur Telah Terbit Buku “Wisata Kuliner, Atribut Baru Destinasi Ubud”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 110,231 hits
December 2016
M T W T F S S
« Nov   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d bloggers like this: