Diimbau tidak Komersialkan Nyepi, tapi Iklan ‘Nyepi Sale’ atau ‘Nyepi Package’ Jalan Terus

March 25, 2017 at 10:20 am Leave a comment

17380085_10211971532345085_1359073020_o

Iklan di simpang Suci Jalan Diponegoro, Jalan Hasanudin, dijepret 24 Maret 2017 (Foto Darma Putra).

Hari Raya Nyepi mulai menjadi alat promosi. Hal ini bisa dilihat dari iklan-iklan di koran lokal yang muncul yang menawarkan ‘Nyepi Package’, yaitu paket berlibur di hotel pada saat hari raya Nyepi. Ada juga iklan di LCD di sebuah pojok perempatan kota Denpasar yang berlogo “NYEPI SALE”.

Nyepi adalah hari suci umat Hindu yang dirayakan dengan unik yakni, tidak bekerja (amati karya), bepergian (amati lelungan), tidak menyalakan api (amati gni), dan tidak menikmati hiburan (amati lelanguan). Keempat pantangan itu disebut dengan catur berata penyepian.

Saat perayaan Nyepi, jalanan di Bali sepi senyap, malam hari gulita karena tidak ada lampu. Bagi banyak orang, terutama non-Bali, melewati Nyepi dalam empat larangan itu mungkin berat. Tidak mengherankan, kemudian hotel-hotel di Denpasar menawarkan paket berlibur di hotel. Hari Nyepi, seperti juga hari suci atau hari aya agama lainnya, dijadikan sarana untuk promosi. Atau, media untuk komersialisasi.

17500409_10211971535185156_866427486_o

Koran Radar Bali (Jawa Pos Group), 22 Maret 2017, halaman depan.

 Melihat fenomena komersialisasi hari raya demikian, muncul imbauan ‘dilarang komersialkan Nyepi’. Imbauan itu menjadi judul berita koran Radar Bali (Jawa Pos Group) (22 Maret 2017).

Dalam berita tersebut dikutip pernyataan Gubernur Bali I Made Mangku Pastika yang menghimbau agar masyarakat merayakan Nyepi dengan baik dan tidak mengkomersialkan karena Nyepi itu sakral.

Pastika dikutip mengatakan bahwa jangan sampai Nyepi di hotel diisi dengan pesta-pesta. Katanya lagi “Saya juga nggak setuju kalau ada orang Bali yang sengaja Nyepi-nya di hotel, ‘kan lucu.” (Radar Bali, 23 Maret 2017).

Ada banyak imbauan tentang Nyepi yang diturunkan dalam berita tersebut (lihat foto). Namun, koran yang memuat berita tersebut pada saat yang sama memuat iklan paket Nyepi di halaman lain (lihat foto).

Komodifikasi bukan Hal Baru

Fenomena memperdagangkan sesuatu sebelumnya tidak dianggap bernilai bisnis disebut dengan komodifikasi. Dalam kehidupan dewasa ini, berbagai hal diperjualbelikan, termasuk organ manusia, misalnya ‘ginjal’.

Melakukan perjalanan suci dalam tradisi agama, dengan penawaran paket, juga dianggap sebuah fenomena komodifikasi.

Menjadikan hari raya sebagai alasan untuk promosi atau menjadi paket dagang pun bukan hal baru. Setiap menjelang Hari Natal, misalnya, di tokoh-toko di dalam negeri dan luar negeri menjadikan hari raya itu sebagai saran promosi, misalnya ‘Christmas Sale’. 

Kalau ‘New Year Sale’ itu biasa, tidak sakral, tapi kalau ada ‘Galungan dan Kuningan Sale’, mungkin bagi sebagian orang sulit diterima. Lalu ada ‘Nyepi Sale’.

Hal yang sama juga terjadi dengan hari raya lain. Hari raya seolah identik dengan hari untuk belanja.

Untuk hari raya Nyepi, penawaran paket berlibur tahun 2017 ini bukanlah hal yang baru. Tahun-tahun sebelumnya sudah terjadi. Setiap ada fenomena penawaran paket dagang dengan menjadikan Nyepi sebagai alasan, selalu ada respon balik atau larangan yang bersifat imbauan.

Walaupaun imbauan larangan terjadi, penawaran jalan terus. Peran media dalam hal ini cukup menarik dan terasa kontradiktif, di satu pihak memuat berita ‘larangan komersialisasi Nyepi’, di lain pihak memuat iklan paket Nyepi.

nyepi-image

Suasana Nyepi di Kuta. (Foto internet)

Di era kemajuan teknologi informasi, terutama internet, promosi Nyepi tidak saja muncul di koran atau media cetak, tetapi juga lewat pesan WA atau BBM.

Promosi juga dilakukan lewat media promosi out door seperti TV LCD di jalan raya. Di LCD yang terpasang di pojok simpang Suci, Denpasar, terpasang iklan dengan tag line “NYEPI SALE”, aneka produk ditawarkan mulai dari HP sampai dengan arloji tangan.

Dunia bisnis memang memanfaatkan apa saja untuk melakukan promosi dan meningkatkan penjualan. Imbauan larangan dicetuskan, tapi promosi tetap jalan, seperti pepatah ‘anjing menggongong kafila berlalu’.

Bagi sebagian orang, godaan belanja, promosi, obral dan sejenisnya saat hari raya adalah hal positif untuk orang ‘menahan diri’. Godaan itu bisa mengingatkan orang untuk mengendalikan diri merayakan agama dengan jalan suci, bukan justru belanja, apalagi berfoya-foya. Siapa mampu melawan iklan, siapa mampu melawan godaan, niscaya mampu merayakan hari suci dengan sejati.

Memang, semua tergantung dari cara pandang. (dp)

 

Advertisements

Entry filed under: Hello Bali.

Wow, Ada Legong di Terminal Keberangkatan Domestik Bandara Ngurah Rai Perempuan Kesurupan dan “Ngurek” saat Melasti di Petitenget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 110,231 hits
March 2017
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

%d bloggers like this: