Peringatan Seabad Sastra Bali Modern

tonggak copy-of-cover-sbm-finalTEMPO Interaktif, Denpasar – Kalangan akademisi dan sastrawan Bali, Kamis (12/8/2010), memperingati satu abad Sastra Bali Modern (SBM) di Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar, Bali. Peringatan ditandai dengan peluncuran dan diskusi buku “Tonggak Baru Sastra Bali Modern” karya I Nyoman Darma Putra.

Dalam buku itu Darma Putra menyatakan, SBM sudah lahir pada 1910-an dengan karya-karya dari Made Pasek dan Mas Nitisastro dalam bentuk cerita pendek. “Ini berbeda dengan karya sastra tradisional sebelumnya dalam bentuk kakawin dan geguritan,”ujar Darma Putra, yang kini terlibat sebagai Dewan Juri untuk hadiah sastra Rancage itu.

Isinya juga menunjukkan tema-tema kontemporer pada saat itu seperti masalah pendidikan dan peran perempuan. Adapun pada saat itu, tutur Darma Putra, karya sastra ditulis untuk pengajaran di sekolah.

Pendapat itu membongkar anggapan bahwa SBM baru lahir pada 1930, sebagaimana dinyatakan oleh Almarhum Profesor Ngurah Bagus. Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Udayana itu mendasarkan pendapatnya pada penerbitan novel karya I Wayan Gobiah yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1931. Pendapat itu kemudian menjadi acuan dalam pengajaran ilmu sastra dan perkembangannya di Bali.

Darma Putra sendiri menemukan karya-karya Made Pasek dari buku-buku teks yang digunakan sekolah-sekolah pada jaman pemerintahan kolonial di Bali. Buku-buku ditemukannya dalam mikrofilm koleksi V.E. Korn di perpustakaan University of Queennsland, Australia.

Selanjutnya, koleksi itu ditambahkan Darma Putra dengan temuannya di Museum Gedong Kirtya, Singaraja, Bali. Bagi dia, karya-karya yang ditampilkan dalam buku itu juga sangat penting untuk menunjukkan interaksi masyarakat Bali dengan perkembangan dunia yang sudah berlangsung lama.

Namun demikian, buku Darma Putra itu dikritik karena kurang menampilkan biografi I Made Pasek dan Mas Nitisastro. “Buku ini juga masih perlu ditindaklanjuti penelitian untuk mengetahui relevansi karya-karya itu dengan dinamika masyarakat Bali,” kata Made Sujaya, wartawan rubrik sastra di koran lokal Bali. Latar belakang serta motivasi pengarang menampilkan karya itu perlu dibedah untuk dibandingkan dengan karya-karya kontemporer pada saat ini.

ROFIQI HASAN

sumber: http://www.tempo.co/read/news/2010/08/12/161270789/Peringatan-Seabad-Sastra-Bali-Modern

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


%d bloggers like this: